Petani Bali (2-Habis) --
Tanam Bunga Jadi Alternatif
Perbaikan nasib petani yang sering
diwacanakan maupun peluncuran program pertanian ternyata
tidak banyak menyentuh petani. Buktinya, dari sejumlah
petani yang ditemui, sebagian besar menyatakan tak ada
perbaikan nasib. Lalu, apa kiat mereka untuk bertahan
hidup di tengah keterpurukan harga komoditi pertanian?

Bali Post/dok
ALIH PERAN - Buruh luar daerah kini mengambil alih peran
tenaga lokal dalam memanen padi.
BERCOCOK
tanam sayur dan bunga pacar, kini menjadi alternatif
para petani di sejumlah kabupaten di Bali. Di Kabupaten
Klungkung, banyak tanah sawah tidak lagi ditanami padi,
tetapi bunga pacar. Petani beralasan, hal itu dilakukan
lantaran biaya operasional yang dikeluarkan untuk
menanam padi tidak sebanding dengan hasil panen. Bahkan,
cenderung lebih tinggi biaya operasional.
Wayan Kerta, petani di Subak Mungguna, Tihingan,
mengakui hasil bunga tak seberapa, tetapi melebihi biaya
produksi yang juga tak banyak. Hal sama diakui petani
Subak Mekoodan, Nang Kapuh, Pan Siring dan Nang Rudi.
Mereka mengaku, hasilnya sebagai petani benar-benar tak
layak. Makanya mereka tak heran kalau generasi muda
sekarang makin menjauhi sektor ini.
Anggota DPRD Klungkung Ketut Ariyasa menuding banyaknya
lahan sawah yang ditanami bunga akan menggagalkan upaya
swasembada pangan. Hal ini dampak dari ketidakpedulian
pemerintah dalam upaya peningkatan produksi. ''Mereka
hanya melaksanakan program rutin yang tidak menunjukkan
peningkatan hasil produksi. Akibatnya, petani hanya bisa
berproduksi untuk memenuhi konsumsi sendiri.''
Petani di Tabanan juga mengeluhkan hal yang sama. I
Wayan Budiarta dari Baturiti Kaja yang memiliki sawah di
Subak Meliling dan Pan Putra asal Mandung menyatakan
harga pupuk dan obat-obatan yang tinggi sangat
memberatkannya. Kak Bayu yang memiliki sawah di Subak
Mandung juga mengeluhkan harga pupuk dan obat-obatan.
Kak Bayu menyatakan jika dihitung dengan biaya produksi
dan hasil yang didapatkan, dipastikan akan minus.
Pendapat yang hampir senada juga disampaikan Pan Suka,
Pan Sutarja dan I Ketut Bina yang memiliki sawah di
Subak Wangaya, Penebel. Gangguan hama sering membuat
petani ketar-ketir karena takut gagal panen. Dengan
harga pupuk seperti saat ini, nasib petani akan membaik
manakala harga gabah saat panen dapat dikontrol, bukan
selalu anjlok ketika panen.
Maka tak salah dengan kondisi itu, banyak petani di
Buleleng kini memperlakukan pekerjaan pertanian sebagai
sampingan. Memang, jika melulu hanya mengandalkan hasil
pertanian mereka masih bisa makan sehari-hari, namun tak
akan bisa menyekolahkan anak-anak mereka sekaligus
memenuhi kebutuhan peralatan rumah tangga.
Sebagaimana diakui Gede Yadnya, seorang petani dari
Banjar Abasan Desa Panji Anom Kecamatan Sukasada. Dulu,
ketika kebutuhan hidup belum sebesar sekarang, ia masih
bisa hidup nyaman menjadi petani. Namun kini, selain
kebutuhan hidup keluarganya terus meningkat, juga
kebutuhan pupuk dan obat-obatan untuk meningkatkan hasil
panen juga harganya semakin mahal. Untuk itu, sejak
sekitar sepuluh tahun lalu ia sudah tak berharap banyak
lagi dari hasil pertanian. Ia hanya ke sawah ketika
musim sedang bagus, sementara pada hari-hari biasa ia
terpaksa bekerja di bidang lain, seperti pertukangan. ''Jika
hanya mengandalkan pertanian, kami tak bisa
menyekolahkan anak-anak,'' katanya.
Hal yang sama dikatakan I Made Mustika dari Banjar
Mandul Desa Panji Anom, Sukasada. Menurutnya, menjadi
petani bukanlah pekerjaan gampang, bahkan lebih sulit
dari pekerjaan lain. Apalagi harga pupuk dan obat-obatan
terus meningkat dan kondisi irigasi makin amburadul.
''Air saja susah diperoleh, apalagi pupuk yang harganya
mahal,'' katanya.
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Buleleng Ir. Putu
Ardika mengakui anggaran untuk pertanian tahun 2007 ini
berjumlah sekitar Rp 9 milyar. Anggaran itu meningkat
dari tahun 2006 lalu yang jumlahnya hanya Rp 7 milyar.
Namun, ia mengakui jumlah anggaran itu masih kurang jika
dibandingkan dengan berbagai program yang harus
dilaksanakan untuk kembali memberdayakan pertanian di
Buleleng.
Harga Rendah
Di Karangasem juga setali tiga uang. Pemberdayaan
masyarakat petani masih sekadar wacana. Petani
seringkali cuma disuruh menanam, tetapi setelah ada
hasil harganya rendah akibat petani tak memiliki daya
tawar.
Sejumlah klian subak dan petani di Karangasem
mengeluhkan hal itu saat berdialog dengan anggota Dewan
Perwakilan Daerah (DPD) Dra. IA Agung Mas, Selasa (9/10)
kemarin. Ketua Asosiasi Petani Cengkeh Karangasem Nyoman
Merta mengatakan, harga cengkeh kering kini anjlok cuma
Rp 28 ribu per kg. Demikian juga harga vanili. Jebloknya
harga cengkeh akibat jalur pemasaran yang terlalu
panjang.
Anggota DPRD Karangasem Nyoman Subaga, S.T. di Amlapura
mengatakan para petani di Karangasem kerap mengeluh,
karena jerih payahnya bekerja membanting tulang tak
sepadan dengan hasilnya. Dia mengakui memang sudah ada
proyek seperti perbaikan irigasi sawah, tetapi belum
seberapa. Saluran irigasi masih lebih banyak yang rusak.
Ia juga menambahkan, bantuan pemerintah berupa 60.000
ton bibit padi enam bulan lalu, justru menyebabkan
petani merasa dibodohi. Bibit padi yang diberikan diduga
cuma pelemparan untuk kepentingan politik tertentu.
Nyatanya, petani yang menggunakan bibit padi itu
menyebabkan gagal panen total. Soalnya, bibit padi
Ciherang itu sama sekali tak tahan tungro, sehingga
tanaman padi total daunnya memerah diserang tungro ganas.
Padahal penyakit tungro di Karangasem sejak dulu dikenal
endemis.
Kadis Pertanian Tanaman Pangan Karangasem Subrata Yasa
saat dihubungi beberapa waktu lalu mengatakan,
belakangan ini sulit mencari bibit padi yang tahan
tungro. Jenis padi yang tahan tungro seperti variets
tukad Petanu atau Unda. Dikatakan, distribusi pupuk
bersubsidi yang dulu sempat dikeluhkan petani kini sudah
lancar. (tim BP)