
Sudah
sepantasnya
jika
para orang
dewasa
dan orangtua
juga
bercermin.
Apabila
siswa-siswa
sekarang
cenderung main
hakim
sendiri lewat
tawuran,
tidakkah
hal
tersebut merupakan
cerminan
tingkah
laku kita?
Saksikanlah
para
wakil rakyat
kita yang
tidak
malu-malu beradegan
ala smackdown
di
gedung parlemen.
Saksikanlah
para
pejabat kita yang
kehilangan
urat
malu dan
bangga
dengan tingkah
polah
korupsi yang dilakukannya.
Cerminan-cerminan
seperti
itu tentunya
lebih
mudah ditiru
oleh
remaja kita yang
sedang
dalam proses
pencarian
jati
diri.
---------------------------
Membuka
Ruang-ruang
Komunikasi
Siswa
Oleh
I Gusti
Ngurah Parthama
PELAJAR
tawuran
masih kerap
terjadi
antara dua
sekolah,
di ibu
kota
maupun
daerah lainnya.
Perilaku
di
kalangan pelajar yang
masih
sering tersulut
emosi
untuk menggelar
perkelahian
di arena
terbuka,
membuat
banyak kalangan
tak
henti-hentinya prihatin.
Tentu
saja
sektor pendidikan
menjadi
sasaran pertanyaan
pertama.
Pasalnya
para
siswa yang terlibat
tawuran
seringkali masih
mengenakan
pakaian
kebanggaan sekolahnya,
putih
abu-abu ketika
saling
berhadapan di
sebuah 'arena'.
Mereka pun
bersenjatakan
benda-benda yang
dapat
membahayakan dirinya
maupun
pihak lain.
----------------------------
Masing-masing
mempersenjatai
dengan
bambu panjang
untuk
memukul kelompok
lain. Yang juga
membuat
prihatin, ketika
salah
satu kelompok
terdesak
dan
memilih berlari
mundur
saat itulah
potret
kekerasan terjadi.
Ketika
salah satu
siswa
terjatuh maka
siswa
dari kelompok
lain
langsung menghajar
dan
menendangnya berkali-kali.
Ironisnya,
ketika
pihak kepolisian
datang
para siswa
itu
tetap cuek
dan
melanjutkan aksinya.
Malah
saat beberapa
polisi
hendak menangkap
rekannya,
siswa lain
justru
melakukan aksi
dorong-mendorong
dengan
petugas kepolisian.
Hingga
akhirnya
empat
korban siswa
berjatuhan
dan
puluhan lainnya
ditangkap
polisi.
Potret
yang sungguh
memprihatinkan.
Yang
membuat
lebih prihatin,
tawuran
dua kelompok
siswa
terkadang malah
tidak
jelas pemicunya,
atau
terpicu masalah
sepele yang
seharusnya
dapat
diselesaikan dengan
komunikasi.
Bagaimanakah
peran
pendidikan selama
ini
hingga begitu
mudahnya
para
siswa terpancing
emosi
dan meledak
lewat
tawuran?
Tawuran
hanya
satu sisi
persoalan
saja.
Persoalan
remaja
seperti meningkatnya
penggunaan
obat-obat
terlarang,
pornografi,
dan
lainnya makin
menimbulkan
kecemasan.
Ke
mana
peran orangtua
siswa
dan masyarakat
hingga
pemerintah tak
mampu
untuk mengatasi
persoalan-persoalan
sepele
namun mengganggu
ini?
Sudah
sepantasnya
jika
para orang
dewasa
dan orangtua
juga
bercermin.
Apabila
siswa-siswa
sekarang
cenderung main
hakim
sendiri lewat
tawuran,
tidakkah
hal
tersebut merupakan
cerminan
tingkah
laku kita?
Saksikanlah
para
wakil rakyat
kita yang
tidak
malu-malu beradegan
ala smackdown
di
gedung parlemen.
Padahal
di
pundak merekalah
masyarakat
meletakkan
aspirasinya.
Saksikanlah
para
pejabat kita yang
kehilangan
urat
malu dan
bangga
dengan tingkah
polah
korupsi yang dilakukannya.
Cerminan-cerminan
seperti
itu tentunya
lebih
mudah ditiru
oleh
remaja kita yang
sedang
dalam proses
pencarian
jati
diri.
Tiga
Institusi
Menyalahkan
sekolah
sebagai ujung
tombak
dalam mendidik
siswa
jelas tidak
adil.
Pada
dasarnya,
pendidikan
merupakan
tanggung
jawab
tiga institusi,
yakni
orangtua, sekolah,
dan
pemerintah.
Pendidikan tidak
dapat
dilepaskan dari
ketiganya
dan
akan
berjalan
timpang
apabila salah
satunya
tidak berfungsi.
Sekolah
praktis hanya
melaksanakan
proses
belajar-mengajar selama
beberapa jam
saja.
Siswa
selanjutnya
lebih
banyak berinteraksi
dengan
keluarga dan
masyarakat.
Di
sinilah
sesungguhnya peranan
yang lebih
banyak
dalam membentuk
karakter
seorang
siswa.
Orangtua
menjadi
faktor penting
dalam
pendidikan seorang
anak
apalagi remaja.
Orangtua yang paling
memahami
seperti
apa
karakter
anaknya
dan mengetahui
apa
sesungguhnya yang diinginkan
oleh
anaknya.
Sayangnya,
dalam
kondisi seperti
sekarang
justru
orangtua mengabaikan
peran-peran
tersebut.
Komunikasi
dalam
rumah terhambat
karena
alasan orangtua 'mengejar
setoran'
untuk
mengatasi persoalan
finansial.
Bekerja
sejak
pagi hingga
akhirnya
pulang
kembali sudah
larut
malam dan
di saat
bersamaan
anak
telah terlelap.
Pada
akhirnya anak
akan
mencari
pelampiasan dengan
berkumpul
pada
komunitas-komunitas yang
memberi perhatian
dan
kasih sayang.
Kondisi
yang pada
akhirnya
malah
lebih sering
menjerumuskan
anak ke
persoalan
baru
seperti narkoba,
dunia
malam, seks
bebas,
dan lainnya.
Pemerintah
dan
peranan masyarakat
di
lingkungan si
anak
berkembang, juga
sepantasnya
memberi
edukasi yang baik.
Hubungan
baik
dan erat
antar
tetangga dalam
sebuah
lingkungan
akan
mengajarkan
pentingnya
memahami
dan
menghargai orang
lain. Namun,
kondisi
saat ini --
khususnya
di
perkotaan-- justru
mengabaikan
hubungan
antarmanusia.
Masyarakat
cenderung
menjadi
individualistis dan
tidak
mau tahu
urusan yang
dialami
oleh tetangganya.
Pembelajaran
Sesungguhnya
Satu
hal yang
patut
menjadi evaluasi
adalah
proses pembelajaran
di
sekolah hendaknya
memberikan
nilai-nilai
penting yang
berlaku
dalam masyarakat.
Proses
tersebut sudah
seharusnya
mengarahkan
para
siswa pada
tingkah
laku yang positif
dan
dapat membedakan
antara
hal baik
dan
tidak baik.
Proses
pembelajaran seperti
itu
justru makin
berkurang
dan
terdesak oleh
kebijakan-kebijakan
pemerintah yang
hanya
mementingkan nilai
akhir
dari sebuah
ujian
bernama ujian
nasional
tanpa
pernah tahu
proses
pencapaian nilai-nilai
yang optimal.
Pada
akhirnya
tidak
mengherankan jika
pelampiasannya
akan
terjadi
melalui tawuran
atau
perkelahian.
Hanya
karena
saling pandang pun
bisa
memicu perkelahian.
Untuk
itu,
membuka kembali
ruang-ruang
komunikasi
siswa
menjadi bagian
penting.
Orangtua, guru,
hingga
pemerintah patut
menyadari
jika
siswa memerlukan
perkembangan lain yang
tidak
melulu diperoleh
melalui
ilmu pengetahuan.
Dalam
koridor
tersebut mereka
sudah
sepantasnya memberikan
kesempatan
siswa
meningkatkan pemahaman
tentang
masyarakat sekitarnya
sehingga
meningkatkan
kecerdasan
emosionalnya.
Di
sisi
lain, siswa
juga
membutuhkan kesempatan
untuk
mengembangkan diri.
Kemampuan
dan
bakat individu
patut
dikembangkan seperti
olah raga,
menulis,
membaca,
berdiskusi
dan
lainnya. Hal itu
akan
memberi
keseimbangan atas
beban
siswa yang harus
melahap
dan memahami
buku-buku
teks yang
kadang
membosankan. Sehingga
dengan
keseimbangan yang baik
maka
siswa dengan
sendirinya
tidak
lagi terdorong
melakukan
tindak
perkelahian atau
tawuran yang
pada
akhirnya malah
mencoreng
nama
orangtua,
sekolah,
hingga
pemerintah melalui
departemen
pendidikan
nasionalnya.
Penulis,
dosen
Fakultas Sastra
Universitas
Udayana
---------------
* Proses
pembelajaran
di
sekolah hendaknya
memberikan
nilai-nilai
penting yang
berlaku
dalam masyarakat.
* Orangtua,
guru, hingga
pemerintah
patut
menyadari jika
siswa
memerlukan perkembangan
lain yang tidak
melulu
diperoleh melalui
ilmu
pengetahuan.
* Siswa
juga
membutuhkan kesempatan
untuk
mengembangkan diri
untuk
memberi keseimbangan
atas
beban siswa yang
harus
melahap dan
memahami
buku-buku
teks yang
kadang
membosankan.