kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 10 Oktober 2007

 Artikel


Sudah
sepantasnya jika para orang dewasa dan orangtua juga bercermin. Apabila siswa-siswa sekarang cenderung main hakim sendiri lewat tawuran, tidakkah hal tersebut merupakan cerminan tingkah laku kita? Saksikanlah para wakil rakyat kita yang tidak malu-malu beradegan ala smackdown di gedung parlemen. Saksikanlah para pejabat kita yang kehilangan urat malu dan bangga dengan tingkah polah korupsi yang dilakukannya. Cerminan-cerminan seperti itu tentunya lebih mudah ditiru oleh remaja kita yang sedang dalam proses pencarian jati diri.

---------------------------

Membuka Ruang-ruang Komunikasi Siswa
Oleh
I Gusti Ngurah Parthama 

PELAJAR tawuran masih kerap terjadi antara dua sekolah, di ibu kota maupun daerah lainnya. Perilaku di kalangan pelajar yang masih sering tersulut emosi untuk menggelar perkelahian di arena terbuka, membuat banyak kalangan tak henti-hentinya prihatin. Tentu saja sektor pendidikan menjadi sasaran pertanyaan pertama. Pasalnya para siswa yang terlibat tawuran seringkali masih mengenakan pakaian kebanggaan sekolahnya, putih abu-abu ketika saling berhadapan di sebuah 'arena'. Mereka pun bersenjatakan benda-benda yang dapat membahayakan dirinya maupun pihak lain.

----------------------------

Masing-masing mempersenjatai dengan bambu panjang untuk memukul kelompok lain. Yang juga membuat prihatin, ketika salah satu kelompok terdesak dan memilih berlari mundur saat itulah potret kekerasan terjadi. Ketika salah satu siswa terjatuh maka siswa dari kelompok lain langsung menghajar dan menendangnya berkali-kali. Ironisnya, ketika pihak kepolisian datang para siswa itu tetap cuek dan melanjutkan aksinya. Malah saat beberapa polisi hendak menangkap rekannya, siswa lain justru melakukan aksi dorong-mendorong dengan petugas kepolisian. Hingga akhirnya empat korban siswa berjatuhan dan puluhan lainnya ditangkap polisi.

Potret yang sungguh memprihatinkan. Yang membuat lebih prihatin, tawuran dua kelompok siswa terkadang malah tidak jelas pemicunya, atau terpicu masalah sepele yang seharusnya dapat diselesaikan dengan komunikasi.

Bagaimanakah peran pendidikan selama ini hingga begitu mudahnya para siswa terpancing emosi dan meledak lewat tawuran? Tawuran hanya satu sisi persoalan saja. Persoalan remaja seperti meningkatnya penggunaan obat-obat terlarang, pornografi, dan lainnya makin menimbulkan kecemasan.

Ke mana peran orangtua siswa dan masyarakat hingga pemerintah tak mampu untuk mengatasi persoalan-persoalan sepele namun mengganggu ini?

Sudah sepantasnya jika para orang dewasa dan orangtua juga bercermin. Apabila siswa-siswa sekarang cenderung main hakim sendiri lewat tawuran, tidakkah hal tersebut merupakan cerminan tingkah laku kita? Saksikanlah para wakil rakyat kita yang tidak malu-malu beradegan ala smackdown di gedung parlemen. Padahal di pundak merekalah masyarakat meletakkan aspirasinya. Saksikanlah para pejabat kita yang kehilangan urat malu dan bangga dengan tingkah polah korupsi yang dilakukannya. Cerminan-cerminan seperti itu tentunya lebih mudah ditiru oleh remaja kita yang sedang dalam proses pencarian jati diri.

 

Tiga Institusi

Menyalahkan sekolah sebagai ujung tombak dalam mendidik siswa jelas tidak adil. Pada dasarnya, pendidikan merupakan tanggung jawab tiga institusi, yakni orangtua, sekolah, dan pemerintah. Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari ketiganya dan akan berjalan timpang apabila salah satunya tidak berfungsi. Sekolah praktis hanya melaksanakan proses belajar-mengajar selama beberapa jam saja. Siswa selanjutnya lebih banyak berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat. Di sinilah sesungguhnya peranan yang lebih banyak dalam membentuk karakter seorang siswa.

Orangtua menjadi faktor penting dalam pendidikan seorang anak apalagi remaja. Orangtua yang paling memahami seperti apa karakter anaknya dan mengetahui apa sesungguhnya yang diinginkan oleh anaknya. Sayangnya, dalam kondisi seperti sekarang justru orangtua mengabaikan peran-peran tersebut. Komunikasi dalam rumah terhambat karena alasan orangtua 'mengejar setoran' untuk mengatasi persoalan finansial. Bekerja sejak pagi hingga akhirnya pulang kembali sudah larut malam dan di saat bersamaan anak telah terlelap. Pada akhirnya anak akan mencari pelampiasan dengan berkumpul pada komunitas-komunitas yang memberi perhatian dan kasih sayang. Kondisi yang pada akhirnya malah lebih sering menjerumuskan anak ke persoalan baru seperti narkoba, dunia malam, seks bebas, dan lainnya.

Pemerintah dan peranan masyarakat di lingkungan si anak berkembang, juga sepantasnya memberi edukasi yang baik. Hubungan baik dan erat antar tetangga dalam sebuah lingkungan akan mengajarkan pentingnya memahami dan menghargai orang lain. Namun, kondisi saat ini -- khususnya di perkotaan-- justru mengabaikan hubungan antarmanusia. Masyarakat cenderung menjadi individualistis dan tidak mau tahu urusan yang dialami oleh tetangganya.

 

Pembelajaran Sesungguhnya

 

Satu hal yang patut menjadi evaluasi adalah proses pembelajaran di sekolah hendaknya memberikan nilai-nilai penting yang berlaku dalam masyarakat. Proses tersebut sudah seharusnya mengarahkan para siswa pada tingkah laku yang positif dan dapat membedakan antara hal baik dan tidak baik. Proses pembelajaran seperti itu justru makin berkurang dan terdesak oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang hanya mementingkan nilai akhir dari sebuah ujian bernama ujian nasional tanpa pernah tahu proses pencapaian nilai-nilai yang optimal.

Pada akhirnya tidak mengherankan jika pelampiasannya akan terjadi melalui tawuran atau perkelahian. Hanya karena saling pandang pun bisa memicu perkelahian.

Untuk itu, membuka kembali ruang-ruang komunikasi siswa menjadi bagian penting. Orangtua, guru, hingga pemerintah patut menyadari jika siswa memerlukan perkembangan lain yang tidak melulu diperoleh melalui ilmu pengetahuan. Dalam koridor tersebut mereka sudah sepantasnya memberikan kesempatan siswa meningkatkan pemahaman tentang masyarakat sekitarnya sehingga meningkatkan kecerdasan emosionalnya.

Di sisi lain, siswa juga membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan diri. Kemampuan dan bakat individu patut dikembangkan seperti olah raga, menulis, membaca, berdiskusi dan lainnya. Hal itu akan memberi keseimbangan atas beban siswa yang harus melahap dan memahami buku-buku teks yang kadang membosankan. Sehingga dengan keseimbangan yang baik maka siswa dengan sendirinya tidak lagi terdorong melakukan tindak perkelahian atau tawuran yang pada akhirnya malah mencoreng nama orangtua, sekolah, hingga pemerintah melalui departemen pendidikan nasionalnya.

 

Penulis, dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana

---------------

* Proses pembelajaran di sekolah hendaknya memberikan nilai-nilai penting yang berlaku dalam masyarakat.

* Orangtua, guru, hingga pemerintah patut menyadari jika siswa memerlukan perkembangan lain yang tidak melulu diperoleh melalui ilmu pengetahuan.

* Siswa juga membutuhkan kesempatan untuk mengembangkan diri untuk memberi keseimbangan atas beban siswa yang harus melahap dan memahami buku-buku teks yang kadang membosankan.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)