kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Kliwon, 10 Oktober 2007

 Debat


Permasalahan
Guru Dalam Melakukan Penelitian
Oleh
Dr. I Wayan Suastra, M.Pd 

DENGAN berlakunya UU RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, itu berarti bahwa guru telah diakui pemerintah sebagai tenaga profesional.

Guru profesional dituntut untuk mengembangkan budaya ilmiah di tempat mereka bekerja. Salah satu upaya meningkatkan kompetensi pendidik (guru) untuk menyelesaikan masalah pembelajaran yang dihadapi saat menjalankan tugasnya dapat dilakukan melalui penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan untuk memperbaiki kualitas proses dan hasil pembelajaran yang telah dilakukannya di kelas tempat mereka mengajar. Melalui penelitian tindakan kelas masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran dapat dikaji, ditingkatkan, dan dituntaskan sehingga proses pendidikan dan pembelajaran yang inovatif dan hasil belajar yang lebih baik dapat diwujudkan secara sistematis. Upaya demikian diharapkan dapat menciptakan budaya belajar di kalangan guru di sekolah. Hasil penelitian oleh guru dapat diringkas sehingga dapat dipublikasikan pada jurnal-jurnal ilmiah bidang pendidikan, dan pada akhirnya dapat digunakan untuk melengkapi portofolio guru dalam bidang karya pengembangan profesi dan kenaikan pangkat.

Permasalahan pertama yang dialami guru dalam melakukan penelitian tindakan kelas adalah kesulitan dalam mengidentifikasi masalah. Banyak persoalan yang dialami siswa dalam belajar, seperti kurang termotivasi belajar, minat belajar rendah, kreativitas berpikir siswa kurang berkembang, dan prestasi belajar rendah. Salah satu faktor penyebab kurang termotivasinya anak belajar dapat disebabkan  guru kurang profesional dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran.

Setelah guru mampu mengidentifikasi masalah yang dialami siswa dalam belajar maka guru perlu mencari solusi atau pemecahan persoalan pembelajaran tersebut, misalnya dengan menerapkan berbagai model pembelajaran inovatif, seperti guided inquiry, problem based learning, CTL, kooperatif STAD, STM, dan pembelajaran berbasis budaya lokal. Guru juga dapat menginovasi berbagai media inovatif, seperti menggunakan ICT, multi media, serta menerapkan penilaian otentik. Di sinilah diperlukan argumentasi yang rasional dan ilmiah dalam menentukan pemecahan atau menentukan pilihan tindakan yang tepat agar dapat meningkatkan proses maupun hasil belajar siswa.

Persoalan kedua yang dialami guru adalah kemampuan mereka dalam menulis secara ilmiah sangat kurang. Hal ini wajar, terutama bagi guru-guru lama yang dalam penyelesaian studinya belum pernah menulis laporan penelitian.

Kegiatan menulis terutama tulisan ilmiah hendaknya mengikuti aturan-aturan yang berlaku secara umum. Seperti, sistematika penulisan, penulisan kalimat, penulisan kutipan, daftar pustaka dan sebagainya. Pengetahuan dan keterampilan tersebutlah yang kurang dimiliki oleh guru. Oleh karena itu, perlu ada pembimbing atau pendamping dari kalangan akademisi terutama bagi guru-guru yang belum memiliki pengalaman dalam menulis karya ilmiah.

Seberapa pentingnya masalah yang perlu diteliti kalau tidak didukung dengan dana akan sulit dilaksanakan. Bagi guru-guru peneliti pemula memerlukan pembimbing/pendamping akademis sehingga diperlukan dana pendampingan. Untuk mengumpulkan data, menganalisis data, membuat laporan juga diperlukan dana. Dengan gaji guru saat ini yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari saja maka diperlukanlah dukungan dana dari pemerintah terutama dari pemerintah daerah melalui APBD. Dana-dana hibah seperti DBEB juga telah dialokasikan untuk membantu guru dalam melakukan penelitian seperti dilakukan oleh DBEB Tabanan, Bangli, Klungkung, dan Gianyar. Namun, jumlah guru yang dapat didanai untuk melakukan penelitian amatlah terbatas.

Kiat lain yang dapat dirancang dalam membantu guru untuk dapat melakukan penelitian adalah mengalokasikan dana block grant sekolah untuk 2 atau 3 judul penelitian per tahun. Guru dapat melakukan penelitian secara mandiri atau kelompok dengan memanfaatkan dana tersebut. Hal ini dapat digunakan karena kegiatan penelitian guru identik dengan perbaikan kualitas pembelajaran.

 

Penulis, dosen FMIPA Undiksha dan tim reviewer Penelitian Tindakan Kelas Direktorat Ketenagaan Dirjen Dikti

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)