kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Umanis, 26 September 2007

 Bali


''Workshop'' Hari Ozon ....

Memerangi
Pengunaan BPO lewat Partisipasi Pers

INDONESIA memastikan akan menyetop impor Cholofuro Carbon (CFC) atau bahan perusak ozon mulai tahun 2008. Langkah ini sebagai penjabaran komitmen ikut mendukung program perlindungan lapisan ozon internasional. Pengawasan pengunaan bahan perusak ozon (BPO) ini dilakukan mengingat Indonesia sudah meratifikasi Konvensi Wina serta Protokol Montreal yang mengisyaratkan penggunaan BPO dihentikan, karena tak ramah lingkungan. Untuk menyukseskan komitmen ini KLH menggandeng media massa untuk membangun kesadaran publik ikut berpartisipasi menekan dampak perubahan iklim.

Mencermati posisi Indonesia sebagai negara  yang memiliki hutan tropis yang luas, peran Indonesia dalam mengendalikan dampak perubahan iklim dunia sangat strategis. Dunia internasional sudah memahami hal ini, terbukti dengan mengalirnya banyak dana hibah untuk kepentingan penyelamatan alam Indonesia. Sayangnya, prilaku menjaga alam di Indonesia tetap saja liar dan tak berorientasi jangka panjang.

Bahkan, dalam kaitan konsumsi penggunaan BPO Indonesia masuk kategori artikel lima dengan indikasi pemakaian bahan perusak ozon relatif besar. ''Jika pemerintah tak tegas dalam pengendalian pengunaan BPO, Indonesia akan terus dipermalukan di forum-forum internasional,'' ujar Kusmuliyani dari Asisten Deputi Kementrian Lingkungan Hidup, saat workshop sehari pengunaan pemakaian CFC dalam pengendalikan dampak perubahan iklim terkait peringatan  Hari Ozon, Selasa (25/9) kemarin.

Pandangan senada juga disampaikan Kepala Pusreg Lingkungan Hidup Bali-Nusra Ir. R. Sudirman, M.M. Dalam pengantarnya yang dibacakan Drs. Dewa Made Suwirya, ia menilai untuk mengendalikan dampak ikutan dari kerusakan alam ini, pers memiliki peran strategis. Menurutnya akibat pengunaan BPO yang tak terkendali, Indonesia potensial ikut mengalami perubahan iklim.

Dalam urusan penggunaan BPO, menurut Kusmulyani dunia internasional telah melakukan pengawasan ketat kepada Indonesia sejak 2004 lalu. ''Indonesia diiingatkan untuk tidak melakukan produksi CFC termasuk mengimpor CFC pada tahun 2008,'' ujarnya. Tahun 2004 konsumsi CFC di Indonesia mencapai 5.548 ton/kapita/tahun. Angka ini bisa ditekan menjadi 1.122 ton/kapita/tahun. Sedangkan tingkat konsumsi KFC di Indonesai mencapai 0,3 kg/kapita/tahun. ''Karena penduduk Indonesia sangat banyak, tingkat konsumsi CFC di Indonesia tergolong tinggi di dunia,'' tegasnya.

 

Membangun Kesadaran

Untuk membangkitkan kesadaran tanggap bahaya lingkungan dan perubahan iklim akibat rusaknya lapisan ozon, Kabid Pengawasan dan Pengedalian Bappelda Bali Ir. A.A.G.A. Sastrawan, partisipasi media harus dikondisikan. Awak media massa di Bali, setidaknya bisa menjadi penggerak bangkitnya kesadaran untuk mengkampanyekan pengurangan penggunan BPO.

Merespons harapan ini, Ketua PWI Bali Djesna Winada mengatakan pers memang memiliki peran strategis dalam kampanye perlindungan lapisan ozon. Bahkan, di Bali harian Bali Post telah secara intens menyuarakan dampak-dampak kerusakan lingkungan. Djesna Winada berpandangan untuk menyadarkan masyarakat terhadap bencana akibat perubahan fungsi alam, ia berharap pers bisa menjadi pembangkit kesadaran publik untuk menjaga lingkungan. ''Pers haruslah terus mengingatkan masyarakat dan pejabatnya untuk tidak berperilaku serakah dan ceroboh mengelola alamnya,'' ujarnya.

Djesna Winada berharap pers juga diberikan penyegaran dan pemahaman terhadap hal-hal teknis penyelamatan alam. Narasumber yang memiliki kompotensi dalam bidang ini hendaknya lebih komunikatif kepada media massa. ''Pers sangat siap ambil bagian dalam kampanye sadar lingkungan termasuk menggaungkan menjaga lapisan ozon,'' ujarnya. (dir)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)