Jro
Gede
Karang Ingin
Bangun
RPH di
Buleleng
Singaraja
(Bali Post) -
Daging
sapi Bali
diakui
oleh ahli
produksi
daging
dan chef mancanegara
memiliki
kualitas
daging
terbaik, namun
hingga
saat ini
tidak
dapat memasuki
pasar
internasional karena
belum
memenuhi standar
kualitas
dan
kebutuhan pasar.
Meski
dalam beberapa
festival kuliner
dan food processing expo
terbukti
bahwa
kualitas daging
sapi Bali
tidak
kalah dengan
sapi Brahman
dari India, Swiss Cow,
sapi
dari Belanda,
atau
sapi Kobe, Jepang,
produk
daging sapi Bali
bahkan
tidak dapat
masuk hotel
dan
restoran di Bali
sendiri.
''Ini
ironi yang harus
dihentikan,
kita
harus berusaha
keras agar
rumah
potong hewan (RPH)
dan
pemrosesan daging
dapat
segera dibangun
di sini,
karena
Buleleng cukup ideal
untuk
lokasinya,'' kata
Jro
Gede Karang
Tangkid
Suarshana dalam
simakrama
bersama
krama Desa Les
dan
Penuktukan, Kecamatan
Sukasada,
Buleleng,
Senin (24/9)
lalu.
Sementara
itu,
kata mantan
Ketua
Asita Bali ini,
rumah
potong hewan
internasional yang
telah
dibangun di
Temesi
masih jauh
panggang
dari
api.
Rumah
potong
dan pusat
pemrosesan
harus
benar-benar memenuhi
standar
kualitas, syarat
higienis
dan
sanitasi yang ketat.
Rumah
potong yang
telah
selesai beberapa
tahun
lalu itu
terancam
puso,
rusak dan
berkarat
sebelum
dapat dioperasikan.
''Mestinya
dibuat
dari bahan stainless
steel dan
suci
hama,
dan
diharap mampu
memproses 50
s.d. 100
ekor per
hari.
Kenyataannya,
di
samping tidak
siap
digunakan, juga
masih
jauh dari
standar minimal,''
ujarnya
di hadapan
belasan
ribu krama
Desa Les
dan
Penuktukan mengantar
punia
pementasan Wayang
Cenk
Blonk, menyambut
upacara
Bhatara Turun
Kabeh
di Pura
Desa
setempat.
Menanggapi
pernyataan
seorang
wakil krama
mengenai
rencana
pemugaran Pura
Puseh yang
merupakan
cagar
budaya, Jro
Gede
Karang berpesan agar
renovasi
dilakukan
dengan
hati-hati, dengan
berpedoman
kepada
konservasi agar generasi
mendatang
tidak
kehilangan jejak
pencapaian
para
leluhur.
Puncak
upacara
piodalan dan
Bhatara
Turun Kabeh
di Pura
Desa
Bale Agung,
Desa
Pakraman Les dan
Penuktukan
dilaksanakan
pada
Purnama Kapat, 25
September 2007. Klian
Desa
Adat Les - Penuktukan,
Jero
Pasek Ketut
Nurai
menuturkan bahwa
upacara
ini bertujuan agar
jagad
beserta isinya,
utamanya
wewengkon
desa
dengan krama
desa
dapat mencapai
kesejahteraan
dan
kedamaian. ''Kita
memohon
karunia Hyang
Widhi, agar
selamat
dan sejahtera
sekala-niskala,
terhindar
dari
bencana dan
penyakit,''
imbuh
Panyarikan Desa
Pakraman Les-Penuktukan,
Jero
Nyoman Adnyana.
(r/*)