kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Umanis, 26 September 2007

 Bali


Sastrawan
Dunia Puji UWRF 2007 

DUA sastrawan dunia, Nury Vittachi dan Kiran Desai, memuji Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2007 sebagai perhelatan kebudayaan yang akan menempatkan Indonesia di percaturan kesusastraan dunia.

Hal itu diungkapkan mereka Selasa (25/9) siang kemarin pada jumpa pers UWRF 2007 di restoran Indus, Ubud. Hadir pula Ketua Yayasan Saraswati, Ketut Suardana, Direktur UWRF 2007, Janet de Neefe, serta sastrawan kondang Bali, Cok Sawitri.

Festival ini merupakan tipping point (ujung tombak) yang akan menandai dimulainya sebuah revolusi kesusastraan yang akan menempatkan sastrawan-sastrawan muda Asia di garis depan sastra dunia, ujar Vittachi.

Penulis yang berdomisili di Hongkong ini menegaskan bahwa penulis serta karya kesusastraan Indonesia, bahkan Asia, belum banyak dikenal di tingkat dunia. Hal ini bukan disebabkan karena kualitas karya yang rendah, tetapi karena kurangnya pengetahuan serta ketertarikan dunia sastra dunia terhadap Asia.

Indonesia itu negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-empat di dunia. Penduduk dunia itu 60 persen tinggal di Asia. Tetapi persentase sastrawan Asia yang karya-karyanya sudah diterbitkan di level dunia hanya tiga persen. Ini sungguh sebuah anomali. Melalui UWRF 2007 inilah kita bersama-sama memperbaiki anomali ini.

Hal serupa diungkapkan Kiran Desai, penulis wanita termuda yang pernah memenangkan hadiah kesusastraan bergengsi Booker Prize. Setahun belakangan ini Kiran berkeliling mengunjungi berbgai festival kesusastraan di India, Srilanka, Amerika Latin.

Begitu banyak penulis-penulis bagus, karya-karya hebat serta antusiasme luar biasa terhadap karya sastra yang saya lihat di festival-festival tersebut. Sayangnya, perhatian media dan dunia Barat sangat minim, sehingga seakan-akan tidak ada karya sastra yang lahir di belahan Asia dan Amerika Latin, paparnya.

Kiran Desai merasa terhormat telah diundang untuk turut serta dalam UWRF 2007. Terlebih lagi tema besar UWRF 2007 Sekala-Niskala merupakan hal yang juga menjadi titik perhatiannya selama ini.

Festival tahunan ini, menurut Janet de Neefe, memang telah berhasil mendorong sastrawan-sastrawan Indonesia untuk berperan di kancah internasional. Interaksi yang mereka alami dengan para penulis luar negeri di UWRF telah merangsang sastrawan nusantara seperti Ayu Utami, Jenar Mahesa Ayu, serta Vira Basuki untuk menerbitkan karya-karya mereka dalam bahasa Inggris.

Sejak dilangsungkannya UWRF, jumlah penulis Indonesia yang diundang ke berbagai festival sastra di Australia serta Selandia Baru juga terus meningkat. Jaringan antar negara ini umumnya dibina saat mereka menghadiri UWRF, paparnya.

Pada tahun ini akan diluncurkan Program Kemitraan Menulis Internasional, yang akan memasangkan penulis-penulis muda Indonesia dengan penulis internasional yang sudah punya nama. Harapannya, mereka akan bisa saling belajar dan saling mengisi, paparnya.

Festival, yang pertama kali berlangsung pada 2004, itu pada tahun ini menampilkan sekitar 80 penulis dari 18 negara. Mereka akan terlibat pada sekitar 95 kegiatan; seperti diskusi panel, pembacaan puisi, lokakarya, serta peluncuran buku; yang dilangsungkan di sekitar 32 venue berbeda di sekitar Ubud.

Sastrawan Bali yang turut serta antara lain Ida Wayan Oka Granoka, Ketut Sumarta, Warih Wisatsana, serta Ngurah Harta. Dari Indonesia yang hadir di antaranya Ahmad Tohari, Julia Suryakusuma, Laksmi Pamuntjak, serta Wiratmadinata.

Harapan kita, festival ini juga turut berperan dalam menggairahkan kepariwisataan di Ubud, ujar Ketut Suardana.

Rencananya, UWRF 2007 akan dibuka petang hari ini (Rabu, 26/9) oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jro Wacik di Puri Ubud. Festival akan berlangsung hingga 30 September mendatang. (r/*)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)