Sastrawan
Dunia
Puji UWRF 2007
DUA
sastrawan
dunia,
Nury Vittachi
dan
Kiran Desai, memuji
Ubud Writers and Readers
Festival (UWRF) 2007 sebagai
perhelatan
kebudayaan yang
akan
menempatkan Indonesia di
percaturan
kesusastraan
dunia.
Hal itu
diungkapkan mereka
Selasa (25/9)
siang
kemarin pada
jumpa
pers UWRF 2007 di
restoran Indus,
Ubud.
Hadir pula Ketua
Yayasan
Saraswati, Ketut
Suardana,
Direktur UWRF 2007, Janet de
Neefe,
serta sastrawan
kondang Bali,
Cok
Sawitri.
Festival ini
merupakan tipping point (ujung
tombak) yang
akan
menandai dimulainya
sebuah
revolusi kesusastraan
yang akan
menempatkan
sastrawan-sastrawan
muda Asia
di
garis depan
sastra
dunia, ujar
Vittachi.
Penulis
yang berdomisili
di
Hongkong ini
menegaskan
bahwa
penulis serta
karya
kesusastraan Indonesia,
bahkan Asia, belum
banyak
dikenal di
tingkat
dunia. Hal ini
bukan
disebabkan karena
kualitas
karya yang
rendah,
tetapi karena
kurangnya
pengetahuan
serta
ketertarikan dunia
sastra
dunia terhadap Asia.
Indonesia itu
negara
dengan jumlah
penduduk
terbesar
ke-empat
di
dunia. Penduduk
dunia
itu 60 persen
tinggal
di Asia. Tetapi
persentase
sastrawan Asia yang
karya-karyanya
sudah
diterbitkan di level
dunia
hanya tiga
persen.
Ini sungguh
sebuah
anomali. Melalui UWRF
2007 inilah
kita
bersama-sama memperbaiki
anomali
ini.
Hal serupa
diungkapkan
Kiran Desai,
penulis
wanita termuda yang
pernah
memenangkan hadiah
kesusastraan
bergengsi Booker Prize.
Setahun
belakangan ini
Kiran
berkeliling mengunjungi
berbgai festival
kesusastraan
di India,
Srilanka,
Amerika Latin.
Begitu
banyak
penulis-penulis bagus,
karya-karya
hebat
serta antusiasme
luar
biasa terhadap
karya
sastra yang saya
lihat
di festival-festival
tersebut. Sayangnya,
perhatian media
dan
dunia Barat
sangat minim,
sehingga
seakan-akan
tidak
ada karya
sastra yang
lahir
di belahan Asia
dan
Amerika Latin, paparnya.
Kiran
Desai merasa
terhormat
telah
diundang untuk
turut
serta dalam UWRF
2007. Terlebih
lagi
tema besar UWRF 2007
Sekala-Niskala
merupakan
hal yang
juga
menjadi titik
perhatiannya
selama
ini.
Festival tahunan
ini,
menurut Janet de Neefe,
memang
telah berhasil
mendorong
sastrawan-sastrawan
Indonesia untuk
berperan
di
kancah internasional.
Interaksi yang
mereka
alami dengan
para
penulis luar
negeri
di UWRF telah
merangsang
sastrawan
nusantara
seperti
Ayu Utami,
Jenar
Mahesa Ayu,
serta
Vira Basuki
untuk
menerbitkan karya-karya
mereka
dalam bahasa
Inggris.
Sejak
dilangsungkannya UWRF,
jumlah
penulis Indonesia yang
diundang ke
berbagai festival
sastra
di Australia serta
Selandia
Baru
juga terus
meningkat.
Jaringan
antar
negara ini
umumnya
dibina saat
mereka
menghadiri UWRF, paparnya.
Pada
tahun
ini akan
diluncurkan Program
Kemitraan
Menulis
Internasional, yang akan
memasangkan
penulis-penulis
muda Indonesia
dengan
penulis internasional
yang sudah
punya
nama. Harapannya,
mereka
akan bisa
saling
belajar dan
saling
mengisi, paparnya.
Festival, yang pertama kali
berlangsung
pada 2004,
itu
pada tahun
ini
menampilkan sekitar
80 penulis
dari 18
negara. Mereka
akan
terlibat pada
sekitar 95
kegiatan;
seperti
diskusi panel, pembacaan
puisi,
lokakarya, serta
peluncuran
buku; yang
dilangsungkan
di
sekitar 32 venue berbeda
di
sekitar Ubud.
Sastrawan
Bali yang turut
serta
antara lain Ida Wayan
Oka
Granoka, Ketut
Sumarta,
Warih
Wisatsana, serta
Ngurah
Harta. Dari Indonesia yang
hadir di
antaranya Ahmad
Tohari, Julia
Suryakusuma,
Laksmi
Pamuntjak, serta
Wiratmadinata.
Harapan
kita, festival
ini
juga turut
berperan
dalam
menggairahkan kepariwisataan
di Ubud,
ujar
Ketut Suardana.
Rencananya,
UWRF 2007 akan
dibuka
petang hari
ini (Rabu,
26/9) oleh
Menteri
Kebudayaan dan
Pariwisata
Jro
Wacik di
Puri
Ubud. Festival akan
berlangsung
hingga 30 September
mendatang.
(r/*)