Pura
Luhur
Uluwatu sebagai
Kahyangan
Jagat
Puluhan
ribu
tempat pemujaan
di Bali
berdasarkan karakternya
dapat
dibagi menjadi
empat
jenis yaitu
Pura
Kawitan, Pura
Kahyangan
Desa,
Pura Swagina
dan
Pura Kahyangan
Jagat.
Pura Kahyangan
Jagat
ini dibagi
menjadi
empat jenis
yaitu
Pura Kahyangan
Jagat yang
didirikan
berdasarkan
konsepsi
Rwa
Bhineda, Catur
Loka
Pala, Sad Winayaka
dan
Padma Bhuwana.
Ada
beberapa pura yang
tergolong
berfungsi
rangkap
baik sebagai
Pura
Rwa Bhineda,
sebagai
Pura Catur
Loka
Pala maupun
sebagai
Pura Sad Winayaka
dan
juga sebagai
Pura
Padma Bhuwana.
Pura-pura
manakah yang
digolongkan
menurut
peran dan
fungsinya?
======================================================
Pura
Besakih
dan Pura
Batur
di Kintamani
adalah
pura yang tergolong
Pura
Rwa Bhineda.
Pura
Besakih sebagai
Purusa
dan Pura
Batur
sebagai Pradana.
Pura
Catur Loka
Pala
adalah Pura
Lempuhyang
Luhur
di arah
timur Bali,
Pura
Luhur Batukaru
arah
barat, Pura
Andakasa
arah
selatan dan
Pura
Pucak Mangu
arah
utara. Pura yang
didirikan
berdasarkan
konsepsi Sad
Winayaka
ini
umumnya disebut
Pura Sad
Kahyangan.
Tidak
kurang
dari sembilan
lontar
menyatakan adanya
Pura Sad
Kahyangan.
Namun
setiap lontar
menyatakan
pura yang
berbeda-beda. Hal
ini
disebabkan pada
zaman
dulu di Bali
ada
sembilan kerajaan
dan
sekarang dibagi
menjadi 7
kabupaten, 1
kota
madya, 1
propinsi.
Tiap-tiap
kerajaan
memiliki Sad
Kahyangan-nya
masing-masing.
Ada
yang sama
dan ada
juga yang
tidak
sama.
Pura
Sad Kahyangan yang
dinyatakan
dalam
Lontar Kusuma
Dewa
itu adalah Sad
Kahyangan
saat Bali
masih
satu kerajaan.
Pura
Luhur Uluwatu
adalah
salah satu
pura yang
dinyatakan
sebagai
Pura Sad Kahyangan
dalam
Lontar Kusuma
Dewa
dan juga
beberapa
lontar
lainnya. Pura
Luhur
Uluwatu itu
juga
dinyatakan sebagai
Pura
Padma Bhuwana yang
berada
di arah
barat
daya Pulau Bali.
Arah
barat
daya itu
dalam
sistem pengider-ider
Hindu Sekte
Siwa
Sidhanta adalah
Dewa
Siwa Rudra.
Dalam
konsep Siwa
Sidhanta,
Dewa Tri
Murti
itu adalah
manifestasi
Siwa
sebagai sebutan
Tuhan Yang
Maha
Esa. Tetapi
dalam
konsep Waisnawa, Tri
Murti
itu adalah
perwujudan
Maha
Wisnu.
Dalam
Rgveda I, 164. 46
dinyatakan
bahwa
Tuhan itu
mahaesa
para Wipra
atau
orang-orang suci
menyebutnya
dengan
banyak nama.
Jadinya
Pura Luhur
Uluwatu
itu adalah
Pura
Kahyangan Jagat yang
didirikan
berdasarkan
konsepsi Sad
Winayaka
dan
konsepsi Padma
Bhuwana.
Sebagai
Siwa Rudra
berkedudukan
untuk
membumikan purusa
wisesa
dari Dewa Tri
Murti agar
umat
tertuntun melakukan
dinamika
hidupnya
berdasarkan Tri
Kona
yaitu kreatif
menciptakan
sesuatu yang
sepatutnya
diciptakan.
Kreatif
memelihara
dan
melindungi sesuatu
yang seyogianya
dipelihara
dan
dilindungi. Demikian
juga
melakukan upaya
pralina
pada sesuatu yang
seyogianya
dipralina.
Siapa pun yang
dapat
hidup seimbang
berbuat
berdasarkan konsep
Tri Kona
itu
dialah orang yang
hebat
karena sukses
dalam
hidupnya. Karena
itulah
Tuhan di
Pura
Luhur Uluwatu
dipuja
sebagai Dewa
Siwa
Rudra. Kata
Rudra
dalam bahasa
Sansekerta
artinya
hebat atau
bergairah.
Keberadaan
Pura
Luhur Uluwatu
ini
sejak abad XVI
Masehi
ada terkait
dengan
tirthayatra Dang Hyang
Dwijendra.
Setelah
itu didirikanlah
Meru
Tumpang Tiga
di Pura
Luhur
Uluwatu sebagai
pemujaan
Dewa
Siwa Rudra
di mana
aspek Brahma
dan
Wisnu juga
terkait
menjadi energi
magis
religius dalam
pemujaan
Siwa
Rudra di
Meru
Tumpang Tiga.
Meskipun
kedatangan Dang
Hyang
Dwijendra memperluas
tempat
pemujaan di
Pura
Luhur Uluwatu
bukan
berarti apa yang
telah
ada harus
ditinggalkan
begitu
saja.
Di
sebelah
kiri sebelum
masuk
pintu Candi
Bentar
tersebut terdapat
kompleks
pelinggih yang
disebut
Dalem Jurit.
Di Pura
Dalem
Jurit inilah
terdapat
tiga
patung Tri Murti yang
merupakan
tempat
pemujaan Siwa
Rudra
ketika Mpu
Kuturan
mendirikan pura
tersebut
abad ke-11
Masehi. Dari
Dalem
Jurit kita
terus
masuk melalui
Candi
Bentar.
Di
jaba
tengah ini
kita
menoleh ke
kiri
lagi ada
sebuah
bak air yang selalu
berisi air
meskipun
musim
kering sekalipun. Hal
ini
dianggap suatu
keajaiban
dari
Pura Luhur
Uluwatu.
Sebab,
di wilayah
Desa
Pecatu adalah
daerah
perbukitan batu
karang
berkapur yang mengandalkan
air hujan.
Bak air
itu dikeramatkan
karena
keajaibannya itu.
Keperluan air
untuk
bahan tirtha
cukup
diambil dari
bak air
tersebut.
Dari jaba
tengah
ini kita
terus
masuk melalui
Candi
Kurung Padu
Raksa
bersayap. Candi
ini ada
yang menduga
dibuat
pada abad ke-11
Masehi
karena dihubungkan
dengan
Candi Kurung
bersayap yang
ada di
Pura
Sakenan. Namun
ada
juga yang berpendapat
bahwa
Candi Kurung
bersayap
seperti
ini ada
di Jawa
Timur
peninggalan purbakala
di
Sendang Duwur
dengan
Candra Sengkala
yaitu
tanda tahun
Saka
dengan kalimat
dalam
bahasa Jawa Kuna
sbb:
Gunaning salira
tirtha
bayu, artinya
menunjukkan
angka
tahun Saka 1483
atau
tahun 1561 Masehi.
Candi
Kurung
Padu Raksa
bersayap
di
Sendang Duwur
sama
dengan Candi
Kurung
Padu Raksa
di Pura
Luhur
Uluwatu. Dengan
demikian
nampaknya
lebih
tepat kalau
dikatakan
bahwa
Candi Kurung
Padu
Raksa di
Pura
Luhur Uluwatu
dibuat
pada zaman Dang
Hyang
Dwijendra yaitu
abad XVI.
Karena Dang
Hyang
Dwijendra-lah yang
memperluas Pura
Luhur
Uluwatu.
Setelah
kita
masuk ke
jeroan (bagian
dalam
pura) kita
menjumpai
bangunan yang paling
pokok
yaitu Meru
Tumpang
Tiga tempat
pemujaan
Dewa
Siwa Rudra.
Bangunan yang
lainnya
adalah bangunan
pelengkap
saja
seperti Tajuk
tempat
meletakkan upacara
dan
Balai Pawedaan
tempat
pandita memuja
memimpin
upacara.
Upacara
piodalan atau
sejenis
hari besarnya
Pura
Luhur Uluwatu
pada
hari Selasa
Kliwon
Wuku Medangsia
atau
setiap 210 hari
berdasarkan
perhitungan
kalender
Wuku.
Pura
Luhur
Uluwatu memiliki
wilayah
suci dalam radius
kurang
lebih lima kilometer.
Wilayah ini
disebut
wilayah Kekeran,
artinya
wilayah yang suci.
Yang patut
kita
perhatikan adalah
melindungi
wilayah yang
disebut
sebagai wilayah
kekeran.
Hendaknya
semua
pihak menghormati
wilayah
kekeran tersebut
untuk
menjaga agar jangan
ada
bangunan yang tidak
terkait
dengan keberadaan
Pura
Luhur Uluwatu
itu.
Wilayah
kekeran
itu hendaknya
dijaga agar
tetap
hijau dengan
tumbuh-tumbuhan yang
khas Bali.
Boleh
dikreasi sepanjang
untuk
mengembangkan
tumbuh-tumbuhan hutan
dengan
tanem tuwuh-nya,
sehingga
wilayah
kekeran itu
benar-benar
asri
dan juga
suci
tidak dijadikan
pengembangan
pasilitas yang
lainnya.
Lebih-lebih
berdasarkan
Bhisama
Kesucian Pura
di Pura
Kahyangan
Jagat
seperti Pura
Luhur
Uluwatu ini
harus
dijaga tidak
boleh
ada bangunan
di luar
fasilitas
pura
dengan radius apeneleng
-- sekitar
lima
kilometer -- harus
steril
dari bangunan yang
tidak
ada hubungannya
dengan
keberadaan Pura
Luhur
Uluwatu. *
wiana