Junta Militer Myanmar
Terusik--
Kerahkan
Tentara
dan Polisi
untuk
Hadapi Biksu
Myanmar -
Pemerintah
junta militer yang
semula
tidak menghiraukan
unjuk
rasa kaum
biksu,
nampaknya mulai
ketar-ketir.
Melihat
perkembangan
unjuk
rasa damai
makin
membesar dan
kini
mendapat perhatian
dunia
internasional, pemerintah
junta meminta agar
kaum
biksu berhenti
menggelar
aksi
tersebut dan
tidak
turut campur
dalam
urusan politik.
Namun,
bukannya mengindahkan
imbauan
tersebut, Selasa
(25/9) kemarin
tiga
puluhan ribu
biksu
memimpin protes
terbesar
di Myanmar
dalam
kurun waktu
dua
dekade terakhir
di dua
kota
besar.
Merasa
tidak
dihiraukan, kemudian
junta militer Myanmar
mengerahkan
ratusan
tentara dan
polisi
antihuru-hara di
kota
terbesar Yangon,
Selasa
kemarin setelah
biksu
tak mengindahkan
peringatan
pembubaran
paksa
unjuk rasa yang
diikuti 100.000
orang.
Sebelas
truk
militer masing-masing
dimuati 20
tentara
dan polisi
antihuru-hara
dikerahkan
di
sekitar bundaran
kota
Yangon,
beberapa jam
setelah 30.000
biksu
dan 70.000 pendukungnya
berkumpul
dalam
aksi protes
terbesar
dalam
dua dekade
terakhir.
Petugas
keamanan
ini
tetap berada
di
dalam kendaraannya,
sementara 500
orang yang
melihat
suasana ini
menatap
dengan penuh
kekhawatiran
dari
pinggir jalan.
Media nasional
secara
mengejutkan meminta
biksu
untuk menjauhi
politik,
menekankan
ancaman
pembubaran paksa
pemerintah yang
disiarkan
melalui
televisi.
"Rekonsiliasi
nasional
sangat
penting bagi
kami.
Masyarakat
dan
biksu berkumpul
dan
bersatu demi
kepentingan
masyarakat,"
ujar
sastrawan terkenal
Aung
Way dalam
pidatonya
melalui
mikrofon kecil.
Beberapa
biksu
memegang spanduk
kecil
bertuliskan "berikan
makanan
layak, pakaian
dan
tempat perlindungan,
rekonsiliasi
nasional,
pembebasan
bagi
semua tahanan
politik".
Beberapa
lainnya
menyerukan "kami
ingin dialog".
Kontingen
besar
para mahasiswa
ikut
bergabung dalam
unjuk
rasa, sambil
membawa
bendera merah
berdekorasi
burung yang
melambangkan
simbol
Liga Demokrasi
Nasional
pimpinan
Aung San
Suu Kyi.
Sementara
itu
dari AS dilaporkan,
Gedung
Putih mengatakan
Presiden AS George W. Bush
akan
menggunakan
sesi
pidatonya untuk
mengumumkan
usaha-usaha
baru AS yang
memberikan
sanksi
kepada figur-figur
kunci
rezim serta
beberapa
masalah
finansial. Penasihat
Keamanan
Nasional AS Stephen Hadley
mengatakan Bush
akan
meminta
negara-negara dunia
bergabung
dalam
kampanye "mencoba
dan
memaksa rezim
militer
untuk sebuah
perubahan." (ton/ap/afp)