kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Umanis, 26 September 2007

 Artikel


Kondisi-kondisi
seperti biaya tinggi, kurikulum yang terus berubah, sarana dan prasarana yang perlu pembenahan hingga rencana-rencana untuk menjadikan Badan Hukum Pendidikan (BHP) makin menempatkan PT sebagai lembaga yang eksklusif. Tidak mengherankan apabila muncul ungkapan kampus ibarat menara gading yang berdiri sendiri tanpa mau tahu apa perkembangan yang terjadi di sekitarnya. Padahal, dosen maupun mahasiswa merupakan agen-agen perubahan sepanjang sejarah Indonesia.

---------------------------------------

Peranan PT di Masyarakat
Oleh
I Gusti Ngurah Parthama 

SELAMA ini kiprah perguruan tinggi (PT) masih diragukan sebagai pencetak kader-kader masyarakat siap pakai. Salah satu tolok ukurnya adalah semakin meningkatnya jumlah pengangguran terdidik dalam kurun dua hingga tiga tahun terakhir. Perguruan tinggi menganggap materi yang telah mereka sampaikan kepada peserta didik sudah memadai sebagai bekal memasuki dunia kerja. Sebaliknya, masyarakat dan dunia kerja justru kesulitan mendapatkan lulusan yang cakap saat memasuki bidang pekerjaan tertentu.

---------------------------

Tidak sinkronnya kondisi antara PT dan dunia kerja di Indonesia memperlihatkan masih belum konsistennya peranan PT di masyarakat. Hubungan timbal-balik yang diharapkan terjadi di antara keduanya tidak berjalan mulus. Belum lagi persoalan lain seperti kegiatan penelitian maupun pengabdian masyarakat sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan penelitian atau pengabdian masyarakat lebih cenderung dilakukan untuk kepentingan kenaikan pangkat staf pengajar. Pelaksanaannya bukan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Yang juga menimbulkan persoalan adalah adanya penelitian-penelitian universitas yang idealnya bagus untuk ditetapkan di masyarakat justru kandas dalam hal birokrasi di pemerintahan.

Kondisi-kondisi seperti biaya tinggi, kurikulum yang terus berubah, sarana dan prasarana yang perlu pembenahan hingga rencana-rencana untuk menjadikan Badan Hukum Pendidikan (BHP) makin menempatkan PT sebagai lembaga yang ekslusif. Tidak mengherankan apabila muncul ungkapan kampus ibarat menara gading yang berdiri sendiri tanpa mau tahu apa perkembangan yang terjadi di sekitarnya.

Padahal, dosen maupun mahasiswa merupakan agen-agen perubahan sepanjang sejarah Indonesia. Yang paling dekat tentu era reformasi saat menumbangkan rezim Orde Baru. Peranan mahasiswa dan akademisi sangat jelas terlihat. Begitu juga ketika masa-masa sebelum dan sesudah kemerdekaan Republik Indonesia hingga perjalanannya saat ini tidak pernah lepas dari kiprah mahasiswa dan akademisi.

 

Sulit Dijangkau

Selama ini memang terdapat kekhawatiran terhadap peranan PT di masa-masa mendatang. Hal tersebut terkait dengan posisi PT yang semakin sulit dijangkau, kalangan masyarakat menengah ke bawah. Gengsi PT kini identik dengan orang-orang berduit semata. Tidak mustahil jika kekhawatiran itu menjadi kenyataan mengingat pendidikan juga dianggap sebagai investasi jangka panjang. Maka jika sudah mencapai sasaran sudah pasti mereka akan berusaha mengembangkan modal yang telah digunakan selama menempuh pendidikan. Kondisi seperti itu menimbulkan pertanyaan, apakah masih ada lulusan-lulusan universitas yang memiliki idealisme untuk menyumbangkan pengetahuan serta kemampuannya bagi masyarakat sekitarnya.

Apalagi di era serba konsumtif sekarang ini. Masyarakat cenderung berperan sebagai pemakai berbagai produk yang justru dihasilkan oleh bangsa lain. Padahal, sejak awal lulusan-lulusan PT diharapkan bisa menjadi wiraswastawan yang dapat membuka lahan pekerjaan baru untuk orang lain. Jadi, tidak hanya menanti lowongan pekerjaan sebagai pegawai perusahaan swasta atau menjadi pegawai negeri sipil (PNS) semata. Sayangnya, harapan-harapan seperti itu sulit terwujud di masa serba sulit saat ini. Jangankan untuk membuka usaha, bahkan untuk makan esok hari saja masih harus berpikir. Tidak mengherankan jika pada akhirnya lulusan PT ikut memberi beban baru bagi masyarakat dan pemerintah.

PT memiliki tanggung jawab moral untuk mencetak kader-kader muda pemimpin bangsa yang memiliki keterampilan, moral tinggi serta kesadaran sosial. Dengan tanggung jawab seperti itu maka diperlukan kerja keras pengelola PT itu sendiri. Yang juga tidak kalah penting membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang kini semakin maju. Kemajuan iptek yang diikuti dengan kesadaran mempertahankan tradisi-tradisi ke-Bali-an menjadi tantangan penting yang harus dijawab pada masa depan.

 

Pengembangan ke Depan

Banyak hal yang sudah dicapai PT di Tanah Air, namun banyak pula hal-hal lain yang harus dikejar ketertinggalannya. Potensi daerah seperti Bali yang khas sudah sepantasnya menjadi nilai lebih bagi pengembangan PT di masa mendatang.

Menjawab tantangan di masa mendatang, diperlukan pemikiran-pemikiran dan hasil-hasil penelitian dari para akademisi. Dengan dukungan tenaga akademis yang berpredikat magister, doktor, maupun guru besar, sudah seharusnya PT turut berperan sebagai penyumbang pemikiran bagi perkembangan Bali di masa depan. Sehingga pada akhirnya terdapat kesesuaian antara pemikiran dari pihak birokrasi maupun akademis dalam melakukan pembangunan di daerah.

Yang tidak kalah penting adalah PT hendaknya memberi peluang-peluang pengembangan lebih besar kepada para akademisi berpredikat magister dan doktor. Pasalnya, mereka mempunyai tanggung jawab untuk melakukan penelitian-penelitian mandiri guna pengembangan keilmuan yang telah diperoleh di jenjang pendidikan lebih tinggi. Karenanya sangat penting untuk bisa membentuk dan mengembangkan pusat penelitian mandiri. Dengan lembaga tersebut maka kesempatan dosen untuk meningkatkan kemampuan dan keahliannya pada bidang ilmu tertentu akan semakin terasah. Selain juga memberi peluang bagi peneliti-peneliti luar negeri untuk melakukan penelitian tentang budaya Bali. Apalagi bahan-bahan mengenai tradisi Bali yang berkaitan dengan fakultas-fakultas di sejumlah PT sudah tersedia di masing-masing institusi.

Memang tidak mudah untuk menjawab tantangan dan melakukan pengembangan-pengembangan terutama yang mengkhusus dalam hal akademik. Namun yang patut disadari adalah peranan PT sudah dan akan terus dinanti. PT dan masyarakat merupakan dua sisi yang saling membutuhkan. Sehingga pada akhirnya PT diharapkan mampu mencetak kader-kader muda untuk perubahan Bali maupun Indonesia di masa depan.

 

Penulis, dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana

-------------------

* Menjawab tantangan di masa mendatang, diperlukan pemikiran-pemikiran dan hasil-hasil penelitian dari para akademisi.

* PT hendaknya memberi peluang pengembangan lebih besar kepada para akademisi berpredikat magister dan doktor karena mereka mempunyai tanggung jawab untuk melakukan penelitian mandiri.

* Sangat penting untuk bisa membentuk dan mengembangkan pusat penelitian mandiri sehingga kesempatan dosen untuk meningkatkan kemampuan dan keahliannya pada bidang ilmu tertentu akan makin terasah.

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)