kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Rabu Umanis, 26 September 2007

 Debat


Empat
Pilar Pemimpin Ideal
Oleh
Dewa Nyoman Usadha, S.E., M.M. 

KONON katanya pemimpin masyarakat ibarat negen bebek muani yang hanya mendapat kotoran dan kritik saja. Sementara kontraprestasi dari jabatan itu belum tentu seimbang dengan pengorbanan.

Seorang pemimpin menjadi tokoh sentral (pusat perhatian) dan dianggap sempurna, padahal pemimpin adalah manusia yang tidak terlepas dari kekurangan. Manusia terbelit oleh sad ripu (musuh diri) dan sapta timira (tujuh kemabukan) sehingga perlu pengendalian diri.

Pemimpin mesti siap mental apabila kebijakan yang salah menuai kritik massa. Sedikit membuat kekeliruan dijadikan move/polemik yang dibesar-besarkan. Ada kemajuan hidup sedikit dibilang korupsi, sedangkan perbuatan baik dan sukses seorang pemimpin jarang diapresiasi masyarakat. Itulah menjadi fenomena pemimpin masyarakat sosial.

Banyak persoalan yang ada seputar proses penciptaan pemimpin. Kriteria bisa mendorong banyak orang mencalonkan diri karena beberapa alasan: (1) Produk hukum atau perda belum mengarahkan pada selektivitas dalam penjaringan kandidat, batasan-batasan umum dan longgar ini sering dijadikan celah untuk ramai-ramai mencalonkan diri, (2) Kelayakan pemimpin melalui proses tatanan berorganisasi di masyarakat sebagai wujud pengabdian awal, belum menjadi pertimbangan, (3) Pengalaman dan kredit poin seorang kandidat belum termuat dan terakomodasi dalam peraturan, (4) Larangan-larangan komponen masyarakat yang pada posisi independen (pengayom masyarakat) bebas berpolitik praktis. Ini terjadi karena belum ada rambu yang jelas, (5) KPUD maupun jajaran di bawahnya seperti Pantarlih belum menggunakan kewenangannya dalam merumuskan aturan tambahan, terkesan kurang berwibawa karena terlalu banyak melibatkan persepsi kandidat. Padahal panitia pemilih memiliki kewenangan mutlak dalam mengatur kandidat sepanjang tidak bertentangan dengan perda.

Kita pernah memiliki pemimpin besar Mataram Raden Wijaya, dan tokoh spektakuler Gajah Mada (era Majapahit). Pemimpin ini sangat dikagumi dan dicintai rakyatnya karena sangat sakti, mempedulikan kehidupan rakyatnya dan memimpin dengan penuh cinta kasih. Mereka didaulat sebagai pemimpin rakyat karena kewibawaan, panutan, mengayomi rakyat juga kesaktiannya, perilaku yang tidak arogan dan beretika.

Kepemimpinan Raden Wijaya dan Gajah Mada sangat mashyur berjaya lama, sehingga disebut pemimpin atas titah (restu) Tuhan. Pemimpin zaman ini tidak memiliki masa jabatan/dapat memimpin sampai umur tua. Kepemimpinan putus (berhenti) karena berbagai faktor.

Jika kita petik makna dari kepemimpinan ini ada empat pilar sebagai indikator pemimpin ideal. Pertama, pendidikan; melalui proses pendidikan akan memiliki kemampuan analisis, daya nalar, kepekaan dalam menghadapi dan memecahkan permasalahan. Kedua, pengalaman berorganisasi. Seorang pemimpin minimal pernah merasakan peristiwa atau berinteraksi sosial terhadap komponen yang dipimpin pada institusi maupun lembaga yang pernah dipimpin. Ketiga, pelayanan yang berkeadilan. Artinya dalam memberikan pelayanan tanpa memilah-milah atau pengelompokan atas dasar kepentingan. Adil dalam arti mengakomodasi kepentingan dan melayani masyarakat secara merata. Keempat, keseimbangan spiritual. Pemimpin khususnya dalam konteks Hindu dalam melaksanakan tugas mampu menjaga harmonisasi (keseimbangan) sekala-niskala tercermin dalam perilaku, tata krama, sopan santun, beretika, dan komunikatif terhadap komponen masyarakat.

Memang kita sulit mencari pemimpin ideal dan panutan bagi masyarakat karena swadharmaning kita sebagai manusia tidak terlepas dari pengaruh negatif dalam diri (sad ripu) dan pengaruh tujuh kemabukan (sapta timira). Namun masyarakat sebagai komponen pendukung tetap memilah dengan hati yang jujur dan tulus karena dengan kesungguhan masyarakat akan tercipta pemimpin yang mampu menjawab harapan masyarakat juga. Figur yang membawa pesan treti-shanti serta bercirikan empat pilar kepemimpinan ini patut menjadi pertimbangan masyarakat pada zaman kali sengara ini.

Penulis, dosen LPPB, tinggal di Tabanan

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)