Empat
Pilar
Pemimpin Ideal
Oleh
Dewa
Nyoman Usadha, S.E.,
M.M.
KONON
katanya
pemimpin masyarakat
ibarat
negen bebek
muani yang
hanya
mendapat kotoran
dan
kritik saja.
Sementara
kontraprestasi
dari
jabatan itu
belum
tentu seimbang
dengan
pengorbanan.
Seorang
pemimpin
menjadi
tokoh sentral (pusat
perhatian)
dan
dianggap sempurna,
padahal
pemimpin adalah
manusia yang
tidak
terlepas dari
kekurangan.
Manusia
terbelit
oleh sad
ripu (musuh
diri)
dan sapta
timira (tujuh
kemabukan)
sehingga
perlu
pengendalian diri.
Pemimpin
mesti
siap mental apabila
kebijakan yang
salah
menuai kritik
massa.
Sedikit
membuat
kekeliruan dijadikan
move/polemik yang
dibesar-besarkan.
Ada
kemajuan
hidup
sedikit dibilang
korupsi,
sedangkan
perbuatan
baik
dan sukses
seorang
pemimpin jarang
diapresiasi
masyarakat.
Itulah
menjadi
fenomena pemimpin
masyarakat
sosial.
Banyak
persoalan yang
ada
seputar proses
penciptaan
pemimpin.
Kriteria
bisa
mendorong banyak
orang
mencalonkan diri
karena
beberapa alasan: (1)
Produk
hukum atau
perda
belum mengarahkan
pada
selektivitas dalam
penjaringan
kandidat,
batasan-batasan
umum
dan longgar
ini
sering dijadikan
celah
untuk ramai-ramai
mencalonkan
diri, (2)
Kelayakan
pemimpin
melalui
proses tatanan
berorganisasi
di
masyarakat sebagai
wujud
pengabdian awal,
belum
menjadi pertimbangan,
(3) Pengalaman
dan
kredit poin
seorang
kandidat belum
termuat
dan terakomodasi
dalam
peraturan, (4)
Larangan-larangan komponen
masyarakat yang
pada
posisi independen (pengayom
masyarakat)
bebas
berpolitik praktis.
Ini
terjadi
karena belum
ada
rambu yang jelas, (5)
KPUD maupun
jajaran
di bawahnya
seperti
Pantarlih belum
menggunakan
kewenangannya
dalam
merumuskan aturan
tambahan,
terkesan
kurang
berwibawa karena
terlalu
banyak melibatkan
persepsi
kandidat.
Padahal
panitia
pemilih memiliki
kewenangan
mutlak
dalam mengatur
kandidat
sepanjang
tidak
bertentangan dengan
perda.
Kita pernah
memiliki
pemimpin
besar
Mataram Raden
Wijaya,
dan tokoh
spektakuler
Gajah
Mada (era Majapahit).
Pemimpin
ini
sangat dikagumi
dan
dicintai rakyatnya
karena
sangat sakti,
mempedulikan
kehidupan
rakyatnya
dan
memimpin dengan
penuh
cinta kasih.
Mereka
didaulat
sebagai
pemimpin rakyat
karena
kewibawaan, panutan,
mengayomi
rakyat
juga kesaktiannya,
perilaku yang
tidak
arogan dan
beretika.
Kepemimpinan
Raden
Wijaya dan
Gajah
Mada sangat
mashyur
berjaya lama, sehingga
disebut
pemimpin atas
titah (restu)
Tuhan.
Pemimpin
zaman
ini tidak
memiliki
masa
jabatan/dapat memimpin
sampai
umur tua.
Kepemimpinan
putus (berhenti)
karena
berbagai faktor.
Jika
kita
petik makna
dari
kepemimpinan ini
ada
empat pilar
sebagai
indikator pemimpin
ideal.
Pertama,
pendidikan;
melalui
proses pendidikan
akan
memiliki
kemampuan
analisis,
daya
nalar, kepekaan
dalam
menghadapi dan
memecahkan
permasalahan.
Kedua,
pengalaman
berorganisasi.
Seorang
pemimpin minimal
pernah
merasakan peristiwa
atau
berinteraksi sosial
terhadap
komponen yang
dipimpin
pada
institusi maupun
lembaga yang
pernah
dipimpin.
Ketiga,
pelayanan yang
berkeadilan.
Artinya
dalam
memberikan pelayanan
tanpa
memilah-milah atau
pengelompokan
atas
dasar kepentingan.
Adil
dalam
arti mengakomodasi
kepentingan
dan
melayani masyarakat
secara
merata.
Keempat,
keseimbangan spiritual.
Pemimpin
khususnya
dalam
konteks Hindu dalam
melaksanakan
tugas
mampu menjaga
harmonisasi (keseimbangan)
sekala-niskala
tercermin
dalam
perilaku, tata
krama,
sopan santun,
beretika,
dan
komunikatif terhadap
komponen
masyarakat.
Memang
kita
sulit mencari
pemimpin ideal
dan
panutan bagi
masyarakat
karena
swadharmaning kita
sebagai
manusia tidak
terlepas
dari
pengaruh negatif
dalam
diri (sad ripu)
dan
pengaruh tujuh
kemabukan (sapta
timira).
Namun
masyarakat sebagai
komponen
pendukung
tetap
memilah dengan
hati yang
jujur
dan tulus
karena
dengan kesungguhan
masyarakat
akan
tercipta
pemimpin yang
mampu
menjawab harapan
masyarakat
juga.
Figur
yang membawa
pesan
treti-shanti serta
bercirikan
empat
pilar kepemimpinan
ini
patut menjadi
pertimbangan
masyarakat
pada
zaman kali sengara
ini.
Penulis,
dosen LPPB,
tinggal
di
Tabanan