Untitled Document
Untitled Document
» Berita Panca Bali Krama
28 Maret 2009 | BP
Panca Bali Krama
Menjadikan Alam Lebih Suci
PUNCAK Tawur Agung Panca Bali Krama di Pura Besakih berlangsung Rabu (25/3). Ribuan umat Hindu tangkil mengikuti prosesi upacara yang datang setiap 10 tahun sekali. Luberan pemedak pun terlihat hingga ke Wantilan Sasana Budaya Pura Besakih, jaba bencingah.

Rangkaian tawur berlangsung di Bencingah Agung Pura Besakih. Sedikitnya 15 sulinggih yang mamuput puncak tawur di bencingah agung ditambah tujuh sulinggih yang mamuput di Penataran Agung Pura Besakih.

Di lokasi tawur, terdapat lima sanggar tawang mengarah ke utara, selatan, barat dan timur serta satu sanggar tawang di titik tengah. Di masing-masing penjuru mata angin di-puput dua sulinggih. Kecuali di pusat tawur (titik tengah) di-puput lima sulinggih. Dua sulinggih juga mamuput di padanan (di kawasan candi bentar lokasi tawur).

Rangkaian tawur berawal dengan mulainya para sulinggih mapuja di masing-masing tempat yang sudah ditentukan. Dirangkai prosesi melis untuk pamarisudha atau pangelukatan bhakti yang akan dipersembahkan saat tawur. Melis atau pangelukatan dilaksanakan para pemangku dan pangayah mengitari bakti, diiringi beragam bunyi-bunyian seperti sungu, gentorak, bajra uter dan ciplukan. Melis dan penyuaraan bunyi-bunyain tersebut dilakukan di masing-masing arah mata angin (sanggar tawang). Sungu, gentorak, bajra uter dan ciplukan dibunyikan bersamaan dengan puja para sulinggih. Dimaksudkan untuk mengundang seluruh kala (roh jahat) dari masing-masing penjuru mata angin. Setelah berkumpul (tentunya secara niskala), dilanjutkan dengan prosesi nyomya (menyempurnakan) kala menjadi wujud dewa sesuai dengan arah masing-masing.

Penguasa penjuru timur alam semesta (purwa) adalah Sadyojata dengan gelar lain Iswara. Tempat tawur di sini bernuansa warna putih. Ada dua sulinggih yang mamuput di tempat ini, Ida Pedanda Gede Sukawati Manuaba dan Ida Pandita Mpu Daksa Samyoga. Penguasa penjuru selatan (daksina) adalah Bamadewa (Brahma) dengan tempat tawur berwarna merah. Yang mamuput Ida Pedanda Gede Pemaron Mandara dan Ida Pandita Mpu Siwa Manik Candra Gni. Penguasa penjuru barat (pascima) dengan warna kuning adalah Mahadewa. Di-puput Ida Pedanda Gde Telaga dan Ida Rsi Agung Putra Pinatih. Penguasa penjuru utara (uttara) adalah Aghora dengan gelar Wisnu (hitam). Di-puput Ida Pedanda Gede Putra Jelantik dan Ida Pandita Dukuh Acarya Daksa. Tengah (madya) adalah Siwa (brumbun) di-puput Ida Pedanda Gede Putra Tembau, Ida Pedanda Gede Wayahan Tianyar, Ida Pedanda Jelantik Giri Puspa, Ida Rsi Hari Dantam dan Ida Bhagawan. Di padanan di-puput Ida Pedanda Gede Ketut Abah dan Ida Pedanda Gde Nyoman Jelantik Dwaja.

Saat bersamaan, di Penataran Agung juga berlangsung tawur. Seperti Ayun Widdhi di-puput Ida Pedanda Gde Putra Yoga, Ida Pedanda Jelantik Gianyar, Ida Rsi Bhujangga Anom Palguna. Paselang di-puput Ida Pedanda Gde Made Gunung, Ida Pedanda Dwija Nugaraha. Pangemit karya di-puput Ida Pedanda Gede Manu Singaraga dan Pangrajeg Karya di-puput Ida Pedanda Gede Rai Pidada.

Setelah nyomya, berlanjut ke prosesi nyarub atau menggabungkan seluruh arah ke satu titik yang ada di tengah-tengah (pusat) lokasi tawur atau yang disebut Yamaraja sebagai tempat pamurtian Tawur Agung Panca Bali Krama. Di titik tengah ini, sebelumnya dibuat kotak dengan beragam symbol-simbol dari kapur putih dan diisi bebantenan (sarana upakara). Beragam hal yang di-carub ditempat ini, di antaranya tirtha dan tawur yang tadinya berada di masing-masing arah sanggar tawang dengan warna berbeda-beda. Tirtha dan tawur setelah di-carub itulah dibagikan ke seluruh umat.

Puncak tawur menggunakan bebantenan inti yang semuanya tingkatan agung dengan sarana wewalungan berupa sapi, kijang, menjangan, kerbau dan kambing. Di antaranya catur mukha yang ditempatkan di sanggar tawang, bebangkit di panggungan dan caru di bawah.

Tepat pukul 12.00 wita prosesi tawur berakhir dengan selesainya sulinggih mapuja. Dilanjutkan persembahyangan bersama dengan harapan alam semesta bersih (suci). Karena merupakan tawur agung, pamuspaan berlangsung sebanyak 13 kali yang ditujukan untuk Ida Batara Siwa Raditya, Akasa, Brahma, Wisnu, Siwa dan lainnya termasuk kepada Ida Batara Gunung Agung. 'Kenapa pemuspaan 13 kali, karena tawur yang kita laksanakan sekarang adalah karya agung,' ungkap Ida Pedanda Gede Putra Tembau dari Geria Aan, Klungkung yang merupakan manggalaning wiku Puncak Tawur Agung Panca Bali Krama.

Panitia Karya Jero Mangku Suyasa menyebutkan, tiga hari setelah puncak tawur atau persisnya pada Saniscara Kliwon Kuningan (Sabtu 28/3), dilaksanakan upacara pangeremek tawur di lokasi tawur (Bencingah Agung Pura Besakih). Upacara ini akan di-puput Ida Pedanda Gede Wayahan Manuaba dari Geria Buruan, Gianyar. Upacara pangeremek tawur, katanya, dilakukan untuk membersihkan sisa-sisa upacara agar alam menjadi lebih suci.

Selebihnya, setiap hari saat nyejer hingga panyineban Ida Batara, Jumat (24/4) mendatang, diaturkan upakara penganyar. Kecuali 8 April 2009, juga akan berlangsung upacara mapepada Ida Batara Turun Kabeh untuk kemudian digelar Puncak Karya Ida Batara Turun Kabeh keesokan harinya (9 April 2009). (bal)


[ Kembali ]

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak