
MANGUPURA, BALIPOST.com – Kampung Angantiga di Desa Petang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, menjadi salah satu bukti akulturasi budaya yang harmonis di Bali. Kampung ini dihuni oleh ratusan kepala keluarga (KK) umat Muslim yang berasal dari Suku Bugis. Menariknya, keberadaan kampung ini sudah bertahan selama 400 tahun, meskipun sejarah pendiriannya masih belum diketahui secara pasti.
Salah satu keunikan dari Kampung Muslim Angantiga adalah tradisi mudik yang berbeda dari kebanyakan umat Muslim lainnya. Jika umumnya umat Muslim di Bali mudik ke Jawa atau daerah asal di luar Bali, warga Kampung Angantiga justru sebaliknya.
Mereka melakukan perjalanan mudik dari Jawa kembali ke Bali, khususnya ke kampung halaman mereka di Angantiga. Hal ini menjadikan mereka sangat akrab dengan budaya setempat, bahkan fasih berbahasa Bali dengan logat yang kental.
Menurut Kepala Kampung Muslim Angantiga, M. Ramsudin, saat ini terdapat 142 KK yang menghuni kampung tersebut. “Kalau ditelusuri dari leluhur kami, kami adalah orang Bugis dari Bone, Sulawesi Selatan. Tapi kami sendiri tidak tahu pasti bagaimana perjalanan leluhur kami hingga sampai di Petang,” ujarnya.
Meski hidup di lingkungan yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, warga Muslim Angantiga hidup dalam kerukunan yang harmonis. Mereka menjalankan kehidupan sosial dengan saling menghormati dan menjaga nilai-nilai kebersamaan.
Sebagai pusat kegiatan keagamaan, Masjid Baiturrahman berdiri sejak tahun 1870 dan telah mengalami beberapa kali renovasi. Terakhir, masjid ini mendapat bantuan renovasi dari Pemerintah Kabupaten Badung pada tahun 2018 sebesar Rp 4,1 miliar. “Semua bantuan renovasi berasal dari Pemkab Badung,” ungkapnya.
Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga ruang untuk bersilaturahmi. Pengelolaannya dilakukan oleh seksi ibadah yang sudah dibentuk dalam struktur organisasi masjid. “Kami memiliki Takmir yang mengelola masjid dan manajemen di dalamnya,” tambahnya.
Dalam kehidupan sehari-hari, mayoritas warga Kampung Angantiga berprofesi sebagai wirausaha dan buruh. Ramsudin sendiri juga berprofesi sebagai wiraswasta. “Kebanyakan dari kami bekerja sebagai buruh, wirausaha, atau wiraswasta,” tuturnya.
Keberadaan Kampung Muslim Angantiga di tengah mayoritas masyarakat Hindu di Bali menjadi cerminan keharmonisan antarumat beragama. Keunikan sejarah, budaya, dan tradisi yang dimiliki kampung ini menjadikannya salah satu contoh keberagaman yang tetap terjaga selama berabad-abad. (Parwata/Balipost)