
DENPASAR, BALIPOST.com– Sehari setelah Idulfitri atau H+1, harga bumbu dapur di pasar tradisional masih tinggi.
Ayu (53), seorang pedagang aneka bumbu dan rempah-rempah mengungkapkan harga dagangannya masih tetap mahal.
“Sampai sekarang harga belum turun. Sebelumnya harga bawang kulit 50 ribu rupiah per kilogram, sekarang masih 55 ribu rupiah. Bawang kupas pun masih bertahan di 65 ribu rupiah. Semua barang naik sekitar 10 ribu per kilogram dan belum ada tanda-tanda turun,” jelasnya saat diwawancarai di Pasar Badung, Rabu (2/4).
Ia menambahkan bahwa stok dari Jawa masih belum stabil, yang menjadi salah satu faktor tingginya harga.
Mira (40), seorang pedagang bumbu dapur asal Gianyar, juga merasakan dampak harga tinggi, terutama pada cabai. “Sebelum Hari Raya Nyepi sempat turun, tapi dari Nyepi menuju Idulfitri terus naik. Dari harga 80 ribu, 90 ribu, 100 ribu, sampai hari ini sudah 175 ribu per kilogram, dan belum ada perubahan,” katanya.
Mira menjelaskan bahwa harga cabai bervariasi tergantung ukuran, dengan kisaran antara Rp 150 ribu hingga Rp 175 ribu per kilogram.
Menurutnya, tingginya harga pasca-Lebaran disebabkan oleh keterbatasan pasokan yang belum pulih. “Harga naiknya itu salah satunya pasokan barangnya itu dikit, jadi itu permintaan banyak orang-orang pada mudik kan ga ada pengiriman barang itu harganya melonjak tinggi. Ketersediaan pasokannya kecil kemudian juga permintaan juga banyak ditambah hari raya, itu membuat harganya melonjak naik seperti itu,” ungkapnya.
Ia menyebut menjelang hari raya Galungan juga mempengaruhi.
Para pedagang berharap agar harga segera kembali normal demi kelangsungan usaha mereka. “Kalau harga terlalu tinggi, konsumen lebih memilih membeli bahan lain, seperti ayam dari pada cabai. Semoga harga turun agar pedagang kecil seperti penjual lalapan dan bakso tetap bisa berjualan dengan harga terjangkau,” harap Mira. (Andin Lyra/balipost)