
DENPASAR, BALIPOST.com – Beredar di media sosial naskah kerja sama antara Universitas Udayana (Unud) dengan TNI AD (Kodam IX/Udayana).
Dalam naskah tersebut tertulis kerja sama tentang sinergi bidang pendidikan, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Namun kerja sama ini menuai penolakan dari sejumlah mahasiswa yang mkhawatir adanya militerisasi di kampus serta intervensi terhadap kebebasan akademik sehingga berpotensi mengancam netralitas dunia pendidikan.
Menanggapi hal tersebut, Kapendam IX/Udayana, Kolonel Inf Agung Udayana, Rabu (2/4) angkat bicara dan menegaskan kerja sama tersebut sama sekali tidak bertujuan untuk intervensi militer di kampus. “Ini adalah tindak lanjut dari MoU Kemendikbudristek dengan TNI pada 2023 sebagaimana disampaikan Rektor Unud (Prof. I Ketut Suarsana) dengan fokus pada penguatan karakter, wawasan kebangsaan, dan program edukatif yang partisipatif,” ujarnya.
Agung menyampaikan seluruh kegiatan dalam PKS murni bersifat edukatif dan tetap berpegang pada Tri Dharma Perguruan Tinggi, tidak akan mengganggu independensi akademik. Selain itu tidak ada sama sekali agenda militerisasi.
“Kami memahami kekhawatiran mahasiswa. Namun kami tegaskan bahwa TNI hadir sebagai mitra, bukan untuk mendominasi. Program seperti pelatihan bela negara non-militeristik, kuliah umum kebangsaan, dan pengabdian masyarakat justru bertujuan memperkuat rasa cinta tanah air dan kedisiplinan, semua proses tetap mengacu pada regulasi yang berlaku,” ujar Kolonel Agung Udayana.
Selain dengan Universitas Udayana, sinergi institusi TNI dengan lembaga perguruan tinggi selama ini telah terjalin dengan baik.
Beberapa universitas ternama yang telah menjalin kerja sama akademik dengan TNI di antaranya Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN Jakarta), Universitas Negeri Malang (UM) dan masih banyak lainnya.
Kerja sama ini umumnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mendorong penelitian dan pengembangan di bidang pendidikan.
“Kami berharap mahasiswa dapat melihat ini sebagai upaya positif untuk memajukan pendidikan, bukan sebagai ancaman. Salah satu tujuan nasional kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan UUD. Kita harus implementasikan itu karena bangsa yang cerdas akan membentuk negara yang kuat,” ucapnya.
Dengan penjelasan ini, diharapkan polemik dapat diatasi melalui komunikasi yang konstruktif, sehingga sinergi antara TNI dan dunia pendidikan benar-benar membawa manfaat bagi seluruh sivitas akademika. (Kerta Negara/balipost)