
SINGARAJA, BALIPOST.com – Nasib tragis dialami Kadek Melly Mudiani, perempuan asal Desa Bontihing, Kecamatan Sawan. Perempuan berusia 23 tahun ini meninggal akibat kecelakaan di New Orleans, Amerika Serikat pada Sabtu (29/3).
Suasana duka sangat terasa di kediaman Melly di Banjar Kanginan, Bontihing. Sang ayah, Ketut Wandika (53), pada Kamis (3/4), mengatakan anak keduanya itu, baru magang sekitar 4 bulan lalu.
Melly disebut magang di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata di Amerika Serikat. Keinginan untuk bekerja di luar negeri itu, sudah menjadi keinginan korban sejak lama.
Melly dikenal sebagai sosok gadis berprestasi ini pun sempat di 2021 memperoleh beasiswa magang di luar negeri. Namun hal itu terhalangi lantaran Covid-19.
“November 2024 lalu akhirnya Melly baru bisa mewujudkan keinginannya untuk magang di luar negeri. Itu pun dengan biaya sendiri dan tanpa beasiswa,” jelas Wandika.
Berita kematian sang anak akibat kecelakaan ini didapat pada Sabtu (29/3) dari rekan anaknya. Awalnya Ia sempat tidak percaya dengan kematian sang anak keduanya.
Setelah diperlihatkan sejumlah identitas termasuk paspor sang anak, ia dan keluarga terkejut.
“Saya awalnya tidak mengenali tas aksesoris anak saya. Saya juga tidak yakin apakah itu punya anak saya, kebetulan teman si Melly yang tinggal di satu apartemen dia yang mengenali. Memang betul tas Melly. Kemudian dibuka dikeluarin isi paspor ditujukan ke kita, itu beneran Melly,” imbuhnya.
Wandika mengaku, terakhir kontak dengan sang anak saat malam Pengerupukan pada Jumat (28/3). Saat itu, Melly meminta untuk dibuatkan video kreasi ogoh-ogoh yang ada di desanya. “Saya langsung membuatkan videonya, agak dia bisa menyaksikan parade ogoh-ogoh di desanya. Bahkan kreasi ogoh-ogoh yang di Denpasar juga saya kirim, karena dia meminta,” katanya.
Ia menambahkan Melly merupakan sosok yang yang mempunyai keinginan besar mewujudkan cita-citanya. “Dari awal Melly tidak pernah diarahkan, mereka bebas mau pilih kemana. Inisiatif keinginannya sendiri untuk berangkat ke luar negeri,” ujarnya.
Saat berkomunikasi dengan sang anak, Wandika menyebut anaknya sudah merasa nyaman dan betah magang di perusahaan saat ini. Bahkan sempat mempunyai rencana untuk memperpanjang kontrak, jika perusahaan membutuhkannya.
Jika tidak dibutuhkan, Melly juga mempunyai rencana cadangan, yakni bekerja sambil melaksanakan kuliah di Australia.
“Tujuannya dia bilang kita tidak mungkin jadi imigran selamanya, kejar reputasi di negara migran, apa yang didapatkan di sana, mudah-mudahan di kampung halaman di Bali dilirik pihak perusahaan, minimal tidak menjadi karyawan biasa minimal kita mengendalikan perusahaan itu,” tandasnya.
Hingga kini kasus kecelakaan yang melibatkan Melly masih dalam penyelidikan polisi setempat. Pihak FBI dan Pengacara Melly kini terus melakukan pendampingan agar jenazah bisa dipulangkan secepatnya.
“Belum ada yang bisa dipastikan semuanya masih serba estimasi. Urusan kepulangan anak saya dihitung dari hari ini, mungkin 7 sampai 10 hari ke depan. Di sana masih proses penyelidikan dan penyidikan, ranahnya kasus kecelakaan,” katanya.
Sementara itu, Bupati Buleleng dr. I Nyoman Sutjidra di sela-sela kunjungan ke rumah duka mengatakan Pemerintah Kabupaten Buleleng, melalui Dinas Tenaga Kerja terus berupaya untuk membantu pemulangan jenazah korban. Upaya kontak dengan KBRI pun sudah dilakukan.
Hanya saja, kasus ini masih proses penyelidikan dan investigasi pihak kepolisian setempat. “Kita bantu yang bersangkutan punya asuransi,akan ditangani BP3MI dan BP2MI ada urunan dan Pemkab urunan, permintaan secepatnya jenazah agar bisa dipulangkan. Mudah-mudahan bisa segera dipulangkan,” tandasnya. (Nyoman Yudha/balipost)