
NEGARA, BALIPOST.com – Jembatan bambu di atas sungai yang menghubungkan permukiman warga di Banjar Sekar Kejula Kelod, desa Yehembang Kauh, Kecamatan Mendoyo roboh awal pekan lalu.
Akibatnya akses untuk belasan kepala keluarga tersebut terputus. Kejadian ini merupakan kali kedua terjadi, setelah pada Oktober 2022 lalu, jembatan ini juga jebol disapu banjir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jembrana melakukan asesmen ke lokasi jembatan bambu tersebut dipimpin Kepala Pelaksana BPBD Jembrana, I Putu Agus Artana Putra.
Menurut Artana Putra, Jumat (4/4), kejadian ini merupakan peristiwa kedua setelah diperbaiki secara swadaya oleh masyarakat. “Pada Selasa lalu, kami menerima laporan jembatan ini kembali roboh akibat kondisi material yang sudah lapuk,” terangnya.
Menurut warga, jembatan ini masih bisa dilalui saat debit air sungai kecil. Tapi saat hujan deras dan air sungai besar, warga tidak bisa menyeberang, sehingga 15 kepala keluarga di Banjar Sekar Kejula Kelod menjadi terisolasi.
Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, terutama saat anak-anak harus berangkat ke sekolah atau jika terjadi situasi darurat seperti warga yang sakit dan membutuhkan pertolongan segera ke rumah sakit.
Pihak desa telah berkoordinasi dengan berbagai instansi untuk mengajukan bantuan, namun hingga saat ini belum terealisasi. BPBD Jembrana menindaklanjuti awal dengan menyalurkan bantuan kepada 15 kepala keluarga yang terdampak.
Di antaranya paket sembako, puluhan matras dan perlengkapan kebersihan. BPBD mengimbau masyarakat Jembrana tetap waspada terhadap potensi bencana yang bisa terjadi kapan saja.
Jembatan ini memang belum dibuat permanen dan hanya bisa dilintasi kendaraan roda dua atau pejalan kaki. Warga berharap ada solusi untuk perbaikan jembatan ini sehingga bisa kembali dilalui. (Surya Dharma/balipost)