
Oleh Kadek Suartaya
Syahdan, pada zaman dahulu, ada seorang raja Bali maha sakti, bertubuh manusia berkepala babi. Kisah penguasa Bali pada abad ke-14 itu, 1337-1343 M, selain berkelebat dalam tuturan lisan mesatua, akan tetapi juga dapat ditonton dalam pementasan seni pertunjukan Bali.
Teater Bali yang lazim mengangkat lakon raja yang berkeraton di Bedahulu itu adalah Topeng, sebuah dramatari yang pengkarakteran tokoh-tokohnya menggunakan aneka tapel (topeng), dari figur raja hingga rakyat jelata. Pagelarannya yang dikaitkan dengan prosesi ritual keagamaan, menuturkan hikayat masa lalu, dari cerita semi sejarah seperti babad hingga legenda dan dongeng.
Salah satunya adalah tentang Dalem Sri Tapolung yang bergelar Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten, “sang raja berkepala babi”. Kisah raja Bali berkepala babi ini memang menarik disajikan dalam ungkapan dramatik seni pentas. Karena itu, bukan hanya dramatari Topeng yang latah menampilkannya, namun teater rakyat Drama Gong dan seni drama tari, Sendratari, kepincut juga.
Alkisah, Ratu Majapahit, Tribhuwana Tunggadewi, mengutus Patih Gajah Mada memerangi Bali, karena raja Bali, Sri Tapolung atau Sri Gajah Waktra, ingin lepas dari pusat (Majapahit). Sebelum mengerahkan pasukan perang, Gajah Mada melancarkan diplomasi, berharap raja Bali tetap anut pada Tunggadewi.
Akan tetapi strategi politik Gajah Mada itu tak bersambut. Sri Tapolung tetap kukuh, tidak mau melunak, tak sudi berada di bawah Majapahit. Apa mau dikata, untuk mewujudkan Sumpah Palapa-nya menyatukan Nusantara, ekspedisi perang pun dilancarkan Gajah Mada yang berbuah kemenangan.
Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten pun takluk. Setelah Bali tunduk, hegemoni Majapahit pun kemudian tak terbendung pada masyarakat dan kebudayaan Bali. Sebagai pemenang, sisi pandang Majapahit terhadap keberhasilannya mengalahkan Sri Tapolung, “sang raja yang berkepala babi”, diacu serta bersemayam dalam memori kolektif
masyarakat Bali dari generasi ke generasi, seperti sering dikisahkan teater Topeng.
Untuk kepentingan dramatik berkaitan dengan Sri Tapolung berkepala babi, dalam pementasan Topeng, Drama Gong, dan Sendratari, para pegiat seni pertunjukan Bali mengadegkannya dengan kreativitas dan tafsirnya masing-masing. Salah satu bagian lakon yang menarik dieksplorasi untuk melukiskan raja Bali itu berkepala babi adalah ketika pertama kali Gajah Mada menghadap Sri Tapolung.
Gajah Mada disilahkan bertamu dengan syarat tak boleh memandang wajah raja. Sebaliknya patih Majapahit itu akan taat dengan larangan tersebut, asalkan saat bersua raja, ia.dihidangkan jukut paku alias sayur pakis (ptridophyta).
Sebuah garapan sendratari yang ditampilkan di arena Pesta Kesenian Bali (PKB) pada tahun 1980-an, begitu memikat disaksikan ketika menggambarkan adegan ini.
Pandangan hina dan haram terhadap babi (porcus), rupanya telah menguntit peradaban manusia sejak lampau. Persepsi menajiskan babi itu, agaknya yang diadopsi oleh Gajah Mada sebagai senjata propaganda politik membunuh karakter Sri Tapolung.
Namun kini, para pengkaji teks, mulai berjingkat menginterpretasikan cerita Raja Bedahulu tersebut secara lebih kritis. Semiotika Raja Bedahulu ini merupakan metafora atau sebagai simbolisasi dari sikap Raja Bali Kuno terakhir itu yang tidak mau mengakui supremasi kekuasaan Majapahit.
Sri Tapolung ingin menempatkan Bali sebagai kerajaan berdaulat dan merdeka, terbebas dari cengkeraman kekuasaan luar. Pencitraan dan
simbol babi direlasikan dengan unsur bawah, sifat tamas (gelap, malas, rakus), serta karakter yang bertentangan dengan nilai-nilai mulia kebaikan dan kebenaran.
Dalam konteks sejarah, citra fisik penguasa yang menyerupai hewan sering digunakan untuk menegaskan kelemahan atau keburukan sifatnya, seperti dalam berbagai legenda dan mitos di kerajaan-kerajaan Nusantara.
Citra buruk Sri Tapolung berkepala babi tersebut diciptakan sebagai delegitimasi seorang penguasa yang dianggap tidak layak memimpin Bali. Pandangan haram dan negatif pada babi tidak universal.
Mitologi Hindu, misalnya, justru menempatkan babi dengan begitu mulia. Dituturkan pada zaman Satyayuga (kebenaran) Dewa Wisnu
ber-awatara menjadi babi. Alkisah, raksasa Hiranyaksa yang maha sakti hendak menenggelamkan bumi.
Untuk menggagalkan kiamat dunia itu, Dewa Wisnu menjadi Waraha, babi hutan besar. Peperangan antara Dewa Wisnu dengan Hiranyaksa berlangsung sengit selama ribuan tahun yang akhirnya dimenangkan oleh Dewa Wisnu dengan mengembalikan bumi ke posisinya semula.
Amanat filosofis dari mitologi Hindu ini, di masa kini, kurang bergaung. Saripatinya tak menjadi referensi masyarakat umum. Babi, oleh sebagian masyarakat Indonesia, sering menjadi cemooh umpatan vulgar, misalnya. Babi, juga, ditebar sebagai fitnah sirik dengki jagat mistika-logika siluman babi ngepet.
Bahkan, hewan babi tak hanya direntang mendiskreditkan orang atau pihak-pihak tertentu secara simbolik, ada pula yang disertai dengan dukungan secara fisik real ekstrem yaitu mengirimkan kepala babi kepada sasaran yang dituju, untuk mengintimidasi, menakut-nakuti, mengancam, membungkam, dan meneror.
Penulis Pemerhati Seni Budaya, Dosen ISI Bali