
DENPASAR, BALIPOST.com – Masalah-masalah yang terjadi belakangan ini menjadi satu rangkaian catatan bahwa Bali tengah mengalami krisis sraddha. Kasus bunuh diri di Bali masuk yang tertinggi se-Indonesia, kejadian intoleransi saat Nyepi, hingga mudah tersinggung ketika pengayah Pura Besakih naik ke atas pelinggih untuk mareresik.
Menanggapi berbagai peristiwa yang terjadi di Bali, Ketua Umum Pusat Koordinasi (Puskor) Hindunesia IB Ketut Susena, Sabtu (5/4) mengatakan, saat ini orang Bali tengah dilanda krisis, terutama krisis sraddha. Kondisi ini kerap dikaitkan dengan jaman Kaliyuga karena belakangan terjadi karut marut perpolitikan, bahkan lembaga penguatan desa di Bali, seperti desa adat dan parisadha, melemah.
Menurutnya kondisi ini terjadi karena dampak dari pengayoman krama dan umat tidak dilakukan.
Lembaga yang seharusnya bertugas melakukan hal itu menjadi tidak pada porsinya sehingga tidak bisa mengurus umat di tingkat paling bawah.
Masalah umat karena berkaitan dengan ekonomi dan psikologis seharusnya mendapat dukungan moral dan motivasi, serta dilakukan pendekatan. “Di kita walau pendekatan kita tidak memberi sesuatu berupa materi tapi kita beri jalan, motivasi, dari situ vibrasinya lebih berharga daripada memberi sembako,” ujarnya.
Sehingga semestinya lembaga-lembaga keumatan hadir membimbing umat, karena ia melihat saat ini Bali mengalami krisis mental, moral, ekonomi. Bali dengan sumber pendapatan terbesar dari pariwisata namun tidak pernah memberi rasa keadilan bagi umat, tidak pernah langsung mendapat sentuhan gemerincing dolar baik untuk kesejahteraan umat maupun penguatan ekonomi, penguatan UMKM dan tidak menyentuh level bawah, hanya dinikmati kalangan menengah atas.
Umat yang mengalami kondisi-kondisi seperti ini menurutnya perlu pendampingan sehingga di tingkat desa adat, perbekel, yang selama ini tidak punya pusat-pusat konsultasi perlu membentuk rumah konsultasi. “Kalau puskor diberi akses ke desa adat dan desa dinas dengan anggaran yang ada agar disentuh SDM- nya sehingga tidak hanya memberikan bantuan infrastruktur fisik tapi juga penguatan SDM,” ujarnya.
Sekjen Puskor Hindunesia AA. Gede Agung menambahkan kondisi yang terjadi saat ini karena terdegradasinya umat Hindu, penurunan tingkat keyakinan yang berimplikasi pada moral.
Menurutnya kondisi Bali sangat ironis karena merupakan episentrum umat Hindu namun saat ini tingkat sraddhanya rapuh.
“Sekarang orang-orang menjadi culas, itu karena dampak teknologi ditambah dengan Bali menjadi destinasi dunia yang membawa peningkatan ekonomi, sehingga menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi memberi peningkatan ekonomi, namun di sisi lain membuat degradasi sraddha,” ujarnya.
Sraddha yang menurun membuat banyak orang Bali melakukan hal yang nyeleneh. Maka dari itu perlu penguatan sraddha dan menguatkan ikatan keumatan agar tidak terpecah belah. “Apa yang bisa menyatukan umat yaitu Bali, tanah kelahiran itu penyatu. Maka harus dipersiapkan, kalau tidak, maka akan menjadi masalah lebih besar,” ujarnya.
Menurutnya saat ini, momentum yang tepat untuk penguatan umat karena hal-hal yang berkaitan dengan Hindu mulai dibuka dan diungkapkan. “Orang dulu tidak berani mengungkapkan agama di KTP-nya namun sekarang sudah, bahkan pura ada dimana-mana, di Belgia, Polandia, Australia, pendeta Hindu juga dari Korea, orang Bule, jadi ini momentum untuk penguatan umat Hindu,” imbuhnya. (Citta Maya/balipost)