DENPASAR, BALIPOST.com – Pertumbuhan ekonomi Bali paling terpuruk di Indonesia akibat dampak pandemi COVID-19. Angka pertumbuhan ekonomi Bali anjlok hingga minus 9 persen karena ketergantungan pada pariwisata.
Untuk itu, upaya pemulihan perekonomian Bali pun terus dilakukan. Pemerintah Pusat akan memgimplememtasikan kebijakan “work from Bali” (WFB). Bahkan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) sudah menandatangani memo kesepahaman dengan The Nusa Dua.
Dalam kesepahaman tersebut, aparatur sipil negara (ASN) di Kemenko Marves dan tujuh Kementerian/Lembaga di bawah koordinasinya akan melakukan WFB. Adanya kebijakan ini, untuk membantu mempercepat pemulihan ekonomi Bali.
Kebijakan ini disambut baik oleh Kepala Dinas Pariwisara (Dispar) Provinsi Bali, I Putu Astawa. Dikatakan, kebijakan ini akan memberikan dampak baik bagi ekonomi Bali, meskipun tidak senormal sebelum pandemi COVID-19.
Sebab, dengan melakukan WFB akan memberikan kepercayaan bagi wisatawan domestik untuk berkunjung ke Bali. Sehingga, dapat menumbuhkan kepercayaan, semangat dan optimisme bagi para pekerja di Bali.
“Saya sangat bergembira diwacanakannya kebijakan work from Bali bagi ASN yang berada di bawah Kemenko Marves ini. Karena kebijakan ini akan menambah kepercayaan wisatawan untuk berkunjung ke Bali, sehingga dapat memunculkan semangat dan optimisme bagi para pekerja di Bali,” ujar Putu Astawa, Jumat (21/5).
Putu Astawa, mengakui bahwa okupansi hotel-hotel di Bali di masa pandemi COVID-19 hanya mencapai 10 persen. Hal ini memberikan dampak yang luar biasa bagi perteumbuhan ekonomi Bali yang bertumpu pada sektor pariwisata.
Namun, sejak Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) berkantor di Bali, kepercayaan bagi wisatawan domestik dan dunia sudah mulai tumbuh, bahwa Bali masih layak untuk dikunjungi dengan penerapan protokol kesehatan (Prokes).
Dengan diperluasnya kegiatan WFB oleh Kemenko Marves, Putu Astawa optimis kepercayaan wisatawan untuk berkunjung ke Bali akan lebih tinggi. Sehingga, berdampak baik bagi pertumbuhan ekonomi Bali. Dengan demikian, akan bisa memperkecil kontraksi ekonomi Bali ke depannya. (Winatha/balipost)