
NEGARA, BALIPOST.com – Cuaca ekstrem yang melanda pesisir selatan perairan Jembrana berdampak signifikan bagi warga Pebuahan, Desa Banyubiru. Warga membuat tanggul darurat menggunakan tumpukan karung berisi pasir untuk mengurangi dampak terjangan ombak hingga ke rumah mereka.
Meski sebagian pantai telah dibangun senderan pada 2024 lalu, masih ada pemukiman warga yang belum tercover senderan. Abrasi yang terus menggerus pantai memaksa warga setempat membangun tanggul darurat.
Sejumlah warga mengaku membuat tanggul darurat itu lantaran pada saat air pasang beberapa waktu lalu, air laut cukup tinggi. Sehingga dengan material seadanya, mereka melindungi lahan mereka termasuk pemukiman warga dari gempuran air laut. Pembangunan yang telah dilakukan baru mencakup sepanjang 780 meter dari total 2,1 kilometer wilayah yang mengalami abrasi. Masih siswa sekitar 1,3 kilometer pantai di Pebuahan yang masih terancam abrasi. Masturi salah seorang warga terpaksa membuat tanggul seadanya menggunakan tumpukan karung berisi pasir agar air tidak langsung menerjang ke rumah.
“Terutama memasuki purnama, air laut tinggi sampai ke rumah,” ujar Rahami, warga lainnya.
Dari pengamatan, Selasa (25/2) nampak tumpukan karung masih terpasang di pinggir pantai. Penanggulangan sudah dilakukan di sisi Barat pantai di tahun 2024 lalu melalui anggaran APBN sebesar Rp 23,5 miliar. Proyek tersebut rampung pada Desember 2024, tetapi belum mencakup seluruh wilayah yang mengalami abrasi.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPRPKP Jembrana, Gede Sugianta, sebelumnya menyatakan kelanjutan pembangunan senderan Pantai Pebuahan telah masuk dalam perencanaan induk tahun 2025. Diharapkan melalui APBN Perubahan 2025, proyek ini dapat kembali dilanjutkan bilamana anggaran tersedia. Selain Pebuahan, wilayah pesisir yang menjadi prioritas di pantai Rambut Siwi, Kecamatan Mendoyo dengan panjang terdampak sekitar 1 kilometer. (Surya Dharma/Balipost)