
DENPASAR, BALIPOST.com – Umat Islam dalam beberapa hari ke depan akan memasuki bulan Ramadan. Hadirnya bulan suci bagi umat Islam ini diikuti dengan kenaikan harga-harga sejumlah bahan makanan, termasuk buah dan sayur.
Dua pedagang di Pasar Badung, Nengah Surpa, dan Tut Nik Ariani, mengungkapkan harga sayur dan buah mengalami lonjakan.
Surpa yang merupakan pedagang sayur asal Klungkung ini menyebutkan sayuran seperti sawi hijau, sawi putih, dan kembang kol mengalami lonjakan harga. Termasuk cabai, yang biasanya dijual dengan harga sekitar Rp 70 ribu per kilogram, kini melonjak menjadi Rp 100 ribu per kilogram.
“Dulu sawi hijau harganya 8 ribu, sekarang jadi 15 ribu. Begitu juga dengan sayuran lainnya seperti sawi putih yang dulu 12 ribu, sekarang menjadi 15 ribu,” ujar Nengah saat ditemui Senin (24/2).
Ia juga mencatat bahwa harga kentang dan wortel turut mengalami kenaikan. Bahkan, harga-harga ini diperkirakan akan terus naik hingga menjelang lebaran.
Meski demikian, ia juga menyatakan stok sayurannya cukup untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. “Stok di kios saya masih cukup, karena saya mendapat pasokan setiap hari dari langganan di Bedugul dan Tabanan,” jelasnya.
Pria yang akrab disapa Pak Nengah ini berharap agar harga sayuran dapat stabil atau turun, sehingga masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, tetap dapat membeli bahan pangan dengan harga yang wajar selama bulan puasa dan saat perayaan Lebaran.
Sementara itu, Tut Nik Ariani, penjual buah asal Padangbai, Karangasem, juga mencatat kenaikan harga buah-buahan menjelang bulan puasa. Beberapa jenis buah seperti mangga dan markisa mengalami lonjakan harga yang cukup tajam.
Mangga yang sebelumnya dijual dengan harga Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp 65 ribu per kilogram. Sementara itu, harga buah markisa yang semula hanya sekitar Rp 65 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram, kini mencapai Rp 135 ribu per kilogram.
“Semua buah naik, terutama yang tidak musim seperti markisa dan mangga. Hujan juga mempengaruhi, membuat buah cepat rontok sehingga pasokan terbatas,” ujar Tut Nik.
Ia menjelaskan harga tinggi ini disebabkan oleh kondisi cuaca yang kurang mendukung. Selain itu, buah-buahan yang dipasok dari luar daerah, seperti Medan dan Jawa, juga mengalami kenaikan harga.
“Harapan saya, semoga jika musim buah datang dan cuaca mendukung, harga bisa turun dan menjadi lebih terjangkau,” ujarnya.
Baik Pak Nengah maupun Tut mengakui adanya peningkatan penjualan menjelang bulan puasa. Menurut Pak Nengah, penjualan sayurannya meningkat sekitar 95 persen dibandingkan dengan hari-hari biasa.
“Biasanya 70%, sekarang sudah 95%. Memang lebih ramai,” katanya.
Sementara itu, Tut mengungkapkan peningkatan penjualan buah sekitar 50 persen menjelang bulan puasa.
Kedua pedagang berharap agar harga bahan pangan dapat lebih stabil, terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam persiapan menyambut hari raya Lebaran. Kenaikan harga yang tinggi dapat membebani konsumen, terutama yang memiliki penghasilan terbatas. (Pande Paron/balipost)