
DENPASAR, BALIPOST.com – Kemacetan di sejumlah kawasan pariwisata, seperti Canggu, Uluwatu, dan Ubud, kerap dikeluhkan tak hanya oleh wisatawan namun juga warga lokal. Kondisi ini menjadi ancaman serius dan mesti dicarikan solusinya. Salah satu solusi yang mengemuka dalam diskusi publik “Pengembangan Ekosistem Transportasi Bali Terintegrasi untuk Mobilitas Masyarakat dan Wisatawan” yang diselenggarakan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bali, Rabu (26/2).
Menurut Ketua MTI Wilayah Bali, Dr.Ir. I Made Rai Ridartha.,ATD.,M.Eng.Sc., Dipl.UG.,ATU, akar permasalahan kemacetan di Bali adalah meningkatnya jumlah kendaraan pribadi yang berada di jalan tanpa adanya upaya untuk menguranginya jumlahnya dengan skema dan infrastruktur. Ia menilai tanpa solusi yang terintegrasi oleh semua stakeholders dan konsep layanan transportasi publik yg berkualitas, permasalahan kemacetan akan semakin parah dan dapat membebani sektor pariwisata yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Bali membutuhkan sistem transportasi yang inklusif dan berkualitas agar memiliki daya tarik yang kuat untuk melayani mobilitas masyarakat dan wisatawan,” ujarnya.
Ridartha menekankan pentingnya melihat layanan transportasi secara utuh sejak mulai dari tempat asal hingga sampai tujuan. Tulang punggung layanan transportasi publik yang sudah dibangun harus disertai dengan penyiapan feeder baik melalui skema subsidi maupun berbarengan dengan layanan transportasi online yg telah tersedia sebagai salah satu opsi disamping feeder dalam konsep first mile-last mile sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh.
Ia pun menilai setiap moda transportasi memiliki peranan yang sama penting, saling mendukung dan melengkapi dalam membentuk ekosistem transportasi publik Bali yang terintegrasi dan berkualitas.
“Dengan sistem transportasi yang terintegrasi, aksesibilitas ke destinasi wisata akan lebih lancar, mengurangi kemacetan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal,” ujar Rai dalam keterangan persnya.
Sementara itu, Area Head Gojek Bali Rayi Bimantara menyatakan integrasi moda transportasi publik dan transportasi online sejalan dengan preferensi wisatawan muda, yang saat ini merupakan segmen mayoritas wisatawan di Indonesia. “Kami melihat keberhasilan integrasi transportasi online dan publik melalui layanan “GoTransit” di Jabodetabek dan Solo sebagai contoh nyata bagaimana kolaborasi antar moda transportasi dapat meningkatkan efisiensi mobilitas masyarakat. Melalui pendekatan ini, masyarakat dapat dengan mudah beralih dari transportasi online ke transportasi publik, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, dan menekan tingkat kemacetan,” paparnya.
Ia pun sepakat pendekatan berupa pemanfaatan transportasi online sebagai penghubung ke transportasi publik, dapat diterapkan di Bali untuk menciptakan sistem transportasi yang lebih terhubung dan efisien.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, Dr. Ir. I Gde Wayan Samsi Gunarta mengutarakan integrasi moda transportasi merupakan elemen kunci dalam perumusan kebijakan yang strategis untuk mengatasi kemacetan di Bali. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan efisiensi mobilitas, tetapi juga memastikan kebijakan transportasi lebih inklusif dan dan integratif.
“Kebijakan pengelolaan transportasi di Bali memerlukan pendekatan berbasis one-island management. Implementasi sistem transportasi yang terintegrasi membutuhkan dukungan dari setiap kota dan kabupaten, terutama dalam penyediaan sumber daya serta feeder station, sehingga ekosistem transportasi di Bali benar-benar saling terhubung. Kedepannya, kami berharap ada upaya dari dari tiap-tiap elemen transportasi yang ada di dalam ekosistem untuk mendorong inovasi lebih kencang agar integrasi transportasi bisa berjalan dengan maksimal,” ujarnya. (kmb/balipost)