
MANGUPURA, BALIPOST.com – Perumdam Air Minum Tirta Mangutama atau PDAM Badung berupaya meningkatkan produksi dan distribusi air di kawasan selatan, khususnya di Pecatu.
Selain peningkatan produksi, Perumdam juga menjalin kerja sama untuk memperkuat jaringan transmisi dan mengkaji opsi pengolahan air laut sebagai sumber air baku di masa depan.
Direktur Teknik Perumdam Tirta Mangutama, Made Suarsa, belum lama ini mengungkapkan pihaknya telah bekerja sama dengan PT Tiara Cipta Nirwana untuk mengolah air di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Estuary. Kapasitas produksi telah meningkat dari 500 liter per detik menjadi 750 liter per detik dengan investasi Rp87 miliar.
“Kami memiliki izin pemanfaatan air baku hingga 800 liter per detik, tetapi saat ini baru bisa diolah 750 liter per detik. Namun, distribusi belum maksimal karena keterbatasan jaringan transmisi di Badung Selatan,” jelasnya.
Untuk mengatasi kendala transmisi, Perumdam kembali bekerja sama dengan PT Tiara Cipta Nirwana dalam optimalisasi perpipaan.
Langkah ini memungkinkan pengaliran air dari Estuary melalui pipa transmisi bawah laut yang melintas di bawah Tol Bali Mandara. Investasi proyek ini mencapai Rp98 miliar dan telah direview oleh BPKP.
“Distribusi air ke Badung Selatan sangat bergantung pada pipa tol bawah laut. Jika pipa ini tidak dipasang, seberapa besar pun produksi air di hulu, tetap tidak akan bisa mengalir ke selatan karena pipa eksisting sudah jenuh,” tegas Suarsa.
Selain meningkatkan kapasitas produksi di Estuary, Perumdam juga menambah pasokan air dari Tukad Mati sebesar 300 liter per detik. Izin pemanfaatan telah diperoleh dan saat ini dalam tahap pengolahan agar dapat ditampung kembali di Estuary sebelum didistribusikan.
Di sisi hilir, optimalisasi jaringan juga dilakukan melalui kerja sama dengan PT Tiga Empat Adam untuk pemasangan pipa di 10 titik di Pecatu dan wilayah selatan dengan investasi Rp131 miliar.
“Pipa yang ada saat ini ukurannya belum seragam, sehingga perlu pemasangan pipa baru agar distribusi lebih optimal. Salah satu ruas penting adalah dari reservoir Wellsite ke Ungasan dan dari reservoir Labuan Sait mengelilingi bukit sepanjang 7 km,” paparnya.
Perumdam juga mempersiapkan pengolahan air laut dengan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) untuk mengantisipasi kebutuhan air dalam lima tahun ke depan. Saat ini, studi awal (pra-FS) sedang dilakukan sebelum dibahas lebih lanjut.
Di sisi lain, inovasi dalam pengolahan air juga terus dikembangkan. Sistem prasedimentasi di IPA Blusung berhasil menurunkan kekeruhan air, sehingga produksi tidak lagi terhenti akibat cuaca buruk. Hal ini memungkinkan Perumdam untuk mengolah tambahan 200 liter per detik dari kapasitas izin yang mencapai 600 liter per detik.
Untuk memaksimalkan distribusi, Perumdam telah membangun tiga reservoir di Kampial, Labuan Sait, dan Puspem Badung. Reservoir Kampial sudah berfungsi 100%, sementara Labuan Sait masih terkendala suplai air dari Wellsite Ungasan.
Saat ini, tender pengadaan pompa besar sedang dilakukan untuk memompa air dari IPA Estuary ke Tegeh Sari dan Ungasan. “Pompa ini masih dalam proses impor dan sudah berjalan sejak Januari 2025,” ungkap Direktur Utama Perumdam Tirta Mangutama, Wayan Suyasa. (Parwata/balipost)