
TABANAN, BALIPOST.com – Untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pengunjung saat libur Lebaran 2025, Pengelola Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, menyediakan 12 kantong parkir.
“Kami proyeksi kunjungan semakin meningkat yang biasanya diramaikan wisatawan domestik,” kata Manager DTW Jatiluwih I Ketut Purna di Kabupaten Tabanan, Bali, dikutip dari kantor berita Antara, Selasa (1/4).
Ia menjelaskan, kantong parkir itu berada di parkir umum, restoran hingga lapangan umum dengan estimasi mampu menampung kendaraan hingga sekitar 170 unit mobil.
Pengelola akan melakukan pengaturan agar kendaraan yang masuk tersebut dapat bergerak lancar dengan penyediaan 12 kantong parkir mobil itu yakni di Anantaloka sebanyak 10 unit, Gong Restoran (30), Warung Teras Subak (2), Warung Dhea (10), J Teras (8), Bhuana Agung (10), dan JR Resto (10).
Kemudian di parkir umum atas (20), parkir umum baru (38), Warung Wayan (25), Warung Krisna (6), dan Lapangan Gunung Sari (10).
Pihaknya mencatat pada Minggu (30/3), jumlah pengunjung mencapai 2.511 orang, sebanyak 1.807 orang di antaranya adalah wisatawan domestik dari sejumlah daerah di tanah air. Kemudian pada hari H Idul Fitri atau pada Senin (31/3) jumlah pengunjung masih berkisar 2.000 orang. Ia memperkirakan kunjungan akan meningkat hingga 7 April 2025 atau hari terakhir libur panjang Lebaran 2025.
Ada pun harga tiket masuk per orang untuk pengunjung lokal Bali sebesar Rp15 ribu, kemudian domestik mencapai Rp25 ribu dan wisatawan asing sebesar Rp75 ribu.
Daya tarik yang ada di kawasan itu yakni bentang alam sawah terasering atau berundak dengan latar belakang Gunung Batukaru, Tabanan.
Pengunjung juga dapat menikmati suasana sawah dengan berjalan kaki atau bersepeda di jalur khusus yang sudah disediakan.
Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati pemandangan alam sembari menikmati kopi atau makanan yang ditawarkan sejumlah kedai di sepanjang desa wisata itu.
Kawasan persawahan Jatiluwih ditetapkan sebagai warisan budaya dunia pada 2012 oleh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya (UNESCO). Desa berhawa sejuk itu menerapkan konsep pariwisata berbasis keberlanjutan lingkungan.
Sebelumnya, Desa Wisata Jatiluwih terpilih masuk 55 desa wisata predikat baik dari total 260 desa wisata lain yang berasal dari 60 negara anggota Badan PBB Bidang Pariwisata (UN Tourism).
UN Tourism menyebutkan predikat baik itu dinilai berdasarkan sembilan indikator yakni sumber daya alam dan budaya, promosi dan konservasi budaya, keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan, integrasi rantai nilai dan pembangunan pariwisata, tata kelola dan prioritasi pariwisata, konektivitas dan infrastruktur serta keselamatan, keamanan dan kesehatan. (Kmb/Balipost)