I Wayan Sukarsa. (BP/Istimewa)

Oleh Ir. I Wayan Sukarsa, M.M.A.

Laut bagi masyarakat Bali dinyakini sebagai tempat sakral, disucikan dan dilestarikan, karena digunakan sebagi tempat pelaksanaan upacara adat, agama dan keberlanjutan kehidupan mahluk di alam semesta. Kesucian dan kelestarian laut menjadi sebuah refleksi pelaksanaan Sad Kerthi yang terafiliasi dari karma tata kelola kehidupan dan lingkungan.

Fenomena musim berembusnya angin barat, laut selalu dipenuhi oleh sampah baik organik maupun anorganik yang sumbernya tidak bisa diidentifiasi daerah asal penyumbang, terakumulasi menjadi sampah laut, terhempas ke daratan menjadi sampah pantai.

Sampah laut juga dikenal sebagai marine debris bisa berasal dari daratan, badan air, pesisir, kegiatan di laut, kegiatan pariwisata, pelabuhan pantai, aktivitas nelayan dan aliran sungai. Beberapa jenis sampah laut yang dilansir situs Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia antara lain: Plastik, Logam, Gelas, Kayu olahan, Kertas dan kardus, karet, pakaian dan tekstil, kegiatan manusia dan bencana alam.

Baca juga:  Menjaga Legitimasi Hasil Pemilu 2019

Berdasarkan estimasi sampah laut antara NPAP, (Bank Dunia) serta (LIPI), didapatkan angka 0,65 juta ton (NPAP), 0,68-0,86 juta ton (Bank Dunia) dan 0,27-0,59 juta ton (LIPI). Dari data itu didapatkan interval base line kebocoran sampah laut nasional adalah 0,49-0,86 juta ton per tahun.

Faktor penyebab banyaknya sampah di laut, adalah kurangnya infrastruktur, kurangnya pemahaman masyarakat pengelolaan sampah, pemahaman masyarakat yang kurang tentang dampak membuang sampah ke laut, sistem hukum belum memadai dan penegakan hukum belum dilaksanakan secara tegas, kekurangan sumber daya keuangan, konsumerisme yang tidak terkendali.

Meningkatnya penggunaan plastik di berbagai aspek kehidupan menjadi sebuah persoalan, berbagai jenis sampah laut, didominasi oleh sampah plastik menjadi ancaman serius untuk makhluk hidup dilaut, kegiatan angkutan laut, pesisir serta kesakralan, kesucian  laut.

Masyarakat Bali sangat kental dengan nilai-nilai kearifan lokal, memandang laut sebagai salah satu sumber air, bukan sekadar sumber daya, melainkan inti dari spiritualitas dan kebudayaan kehidupan serta memperkaya keberlanjutan ekosistem sekitar.

Baca juga:  Provinsi Daerah Istimewa Bali?

Dalam filsafat disebutkan laut atau segara sebagai muara segala kehidupan dan peradaban karena habitat terbesar beraneka jenis satwa dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan dan penghidupan.

Dalam menjaga keseimbangan alam didalam falsafah Tri Hita Karana, pelaksanaan Sad Kerti sebagai landasan pokok untuk menjaga kesucian atau menjaga keseimbangan. Sad Kerti berarti enam upaya untuk menjaga keseimbangan alam semesta.

Begitu pentingnya fungsi air bagi masyarakat Hindu Bali khususnya, konsep kearifan lokal merawat air melindungi sarwa prani” dengan pelaksanaan ritual segara/samudra kerthi bertujuan memohon anugerah agar laut bersih sekala dan niskala.

Secara sekala Samudera Kerti menjaga kebersihan-kelestarian pantai dan laut, serta berbagai sumber-sumber alam yang ada di dalamnya. Karena lautan memegang peranan yang penting pada kehidupan di bumi ini.

Baca juga:  Tiga Hari ke depan, Ini Ramalan BMKG

Secara niskala melaksanakan berbagai upakara yang terkait dengan pembersihan-penyucian lautan menjaga vibrasi energi positif pada samudera. Oleh sebab itu laut dan air harus dirawat, disucikan, dan dimuliakan baik secara sekala (nyata) maupun niskala (spiritual).

Secara sekala merawat dan melindungi agar laut tetap lestari dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dan pihak terkait melakukan karma baik, bertanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan, menjamin kepastian hukum dengan menerapkan aturan tegas (otoriter) untuk mengubah mind set masyarakat dalam penanganan dan pengurangan sampah, meskipun menyakitkan di awal dengan harapan berbuah manis pada akhirnya, untuk menjaga laut tetap lestari demi terwujudnya kehidupan “moksartham jagadhita ya ca iti dharma”, yang berarti: dengan dharma kita mewujudkan kedamaian semua makhluk dan keharmonisan alam semesta (jagadhita), serta mencapai pembebasan dari roda samsara (moksartham).

Penulis adalah Analis Kebijakan pada Badan Riset dan Inovasi Daerah Kabupaten Badung

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *