
SINGARAJA, BALIPOST.com – Libur Nyepi dan Idul Fitri di Kabupaten Buleleng nampaknya belum berdampak pada sektor pariwisata di Bali Utara. Bagaimana tidak, hingga saat ini tingkat hunian hotel masih rendah, dengan rata- rata hunian masih di angka 40 persen.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Gede Dody Sukma, dikonfirmasi Rabu (2/4), membenarkan hal itu. Rata – rata tingkat hunian di hotel berbintang masih masih di kisaran 40 persen, termasuk kawasan Lovina dan di Desa Pemuteran. “Bahkan, daerah lain di Buleleng seperti Pemuteran dan Air Sanih tercatat lebih rendah, dengan okupansi masing-masing hanya sekitar 30 persen,”jelas Dody.
Ia menyebut, penyebab rendahnya okupansi hotel ini lantaran wisatawan lebih memilih menginap di Hotel Melati. Pasalnya, keberadaan hotel melati memiliki harga yang lebih terjangkau. “Hotel non-bintang memang lebih banyak dicari, terutama oleh wisatawan domestik yang memilih akomodasi dengan harga lebih terjangkau,” imbuhnya.
Ia menambahkan, bahwa meski libur Lebaran baru berlangsung dua hari, pihaknya optimis tingkat hunian akan meningkat pada akhir pekan ini. “Karena libur Lebaran masih panjang, kami berharap okupansi akan mulai meningkat, terutama pada tanggal 5 hingga 6 April,” katanya.
Tingkat okupansi hotel di Buleleng ini pun berbanding terbalik dengan tingkat kunjungan Daerah Tujuan Wisata di Buleleng. Kunjungan destinasi wisata di Buleleng mengalami lonjakan yang signifikan, terutama di objek wisata seperti Air Panas Banyuwedang dan Air Panas Banjar hingga kawasan wisata Wanagiri. Sejumlah wisatawan domestik maupun mancanegara pun terlihat mengunjungi sejumlah DTW yang ada. Hanya saja, wisatawan itu tidak menginap.
“Kunjungan wisatawan ke destinasi seperti Air Panas Banyuwedang dan DTW Banjar meningkat pesat, bahkan kunjungan ke Banyuwedang tiga kali lipat dari biasanya. Ini tentu berkah bagi sejumlah DTW yang ada,”pungkasnya. (Yudha/Balipost)