I Nyoman Sucipta. (BP/Istimewa)

Oleh I Nyoman Sucipta

Bali tetap menjadi destinasi wisata global, tetapi di awal tahun 2025, pulau ini menghadapi beberapa masalah serius yang memengaruhi pengalaman wisatawan, keberlanjutan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat lokal.

Masalah destinasi seperti Kuta, Ubud, dan Nusa Penida semakin padat, menyebabkan kemacetan, antrean panjang, dan penurunan kualitas pengalaman wisata.

Dampak lingkungan rusak (sampah, erosi pantai). Harga properti dan biaya hidup melonjak, warga lokal terpinggirkan. Bali menghasilkan  ±1,6 juta ton sampah per tahun, dan banyak yang berakhir di pantai dan sungai.

Wisatawan berkontribusi besar, terutama plastik sekali pakai (botol, sedotan, packaging makanan). Solusi memperketat aturan “no single-use plastic” dan menyediakan air minum isi ulang gratis di tempat wisata. Menggalakkan “plastic-free tourism certification” untuk hotel dan restoran. Program “Trash Tax” (pungutan kecil untuk pembersihan lingkungan).

Kesenjangan ekonomi dan eksploitasi tenaga kerja lokal banyak pekerja pariwisata (pemandu, penari, sopir) digaji rendah, sementara keuntungan besar dinikmati korporasi asing/pemodal besar, harga tanah meroket, warga kesulitan memiliki bisnis sendiri. Perubahan perilaku wisatawan (Low-Quality Tourism).

Masalahnya banyak turis budget backpacker yang hanya cari murah, tidak menghormati budaya (misal: berfoto tidak sopan di pura, mabuk di tempat umum). Viralisasi destinas.”instagenic” menyebabkan kerusakan (contoh: Kelingking Beach yang overcapacity).

Menerapkan “tourist etiquette campaign” (sosialisasi aturan budaya Bali via QR code di bandara). Membatasi akses ke spot alam rapuh (missal sistem tiket online untuk Nusa Penida). Menaikkan retribusi wisatawan asing untuk dana konservasi.

Baca juga:  Fokus Wujudkan Germas

Pariwisata ergonomi di Bali adalah konsep yang menarik dan relevan, terutama mengingat Bali sebagai destinasi wisata dunia yang mengedepankan kenyamanan, keberlanjutan, dan pengalaman holistik bagi pengunjung.

Ergonomi dalam pariwisata berarti merancang fasilitas, aktivitas, dan layanan wisata yang sesuai dengan kebutuhan fisik, psikologis, dan sosial pengunjung, sekaligus mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat lokal dan lingkungan.

Aspek ergonomi dalam pariwisata Bali seperti akomodasi dan fasilitas yang nyaman, hotel, villa, dan restoran di Bali sudah banyak yang mengadopsi prinsip ergonomi, seperti desain interior yang alami (menggunakan bahan lokal), pencahayaan alami, serta penataan furniture yang sesuai dengan postur tubuh.

Contoh penggunaan lumbung (rumah tradisional Bali) yang dimodifikasi menjadi penginapan ergonomis atau konsep glamping (glamorous camping) yang menggabungkan kenyamanan dengan alam.

Aktivitas wisata yang berkelanjutan dan sehat yoga, meditasi, dan retreat kesehatan di Bali sudah sangat terkenal dan memenuhi prinsip ergonomi dengan menyeimbangkan fisik dan mental. Wisata alam seperti trekking di Campuhan Ridge atau bersepeda di Jatiluwih dirancang untuk minim dampak lingkungan sekaligus menyehatkan.

Pariwisata ergonomi juga harus melibatkan masyarakat lokal, seperti homestay yang dikelola warga atau workshop kerajinan tradisional yang tidak membuat pengrajin kelelahan fisik. Contoh desa wisata Penglipuran yang memadukan budaya Bali dengan kenyamanan pengunjung.

Baca juga:  Musang Berbulu Domba

Pariwisata ergonomi di Bali sudah berkembang dengan baik, terutama di sektor akomodasi dan aktivitas wellness, tetapi masih perlu peningkatan dalam transportasi, aksesibilitas, dan pengelolaan wisata berkelanjutan.

Dengan pendekatan yang holistik, Bali bisa menjadi contoh destinasi wisata yang tidak hanya indah, tetapi juga nyaman, inklusif, dan berkelanjutan bagi semua kalangan. Bali sudah lama menjadi destinasi yang menggabungkan kesehatan, budaya, dan alam dalam pengalaman wisatanya. Ketiga aspek ini bisa dirancang secara ergonomis artinya nyaman bagi pengunjung, berkelanjutan bagi lingkungan, dan bermanfaat bagi masyarakat lokal.

Bali sudah melakukan banyak hal benar dalam wisata kesehatan, budaya, dan alam, tetapi masih ada ruang untuk perbaikan ergonomik Kesehatan. Lebih inklusif untuk semua usia dan  budget. Bali bisa menjadi contoh destinasi ergonomi terbaik di dunia di mana wisatawan pulang tidak hanya senang, tetapi juga lebih sehat, berpengetahuan, dan sadar lingkungan.

Bali sudah menguasai ketiga konsep ini dengan baik, tetapi beberapa inovasi ergonomi yang less mainstream bisa membuat pengalaman wellness, budaya, dan alam semakin nyaman, berkelanjutan, dan autentik. Berikut konsep wisata ergonomi  yang layak dikembangkan adalah  Wellness: Beyond Yoga & Spa  ergonomi untuk “Digital Detox” dan Penyembuhan modern “Posture Clinic” untuk Digital Nomad.

Banyak pekerja remote mengalami nyeri leher/punggung. Studio yoga/klinik bisa tawarkan workshop penataan workstation ergonomis ditambah pijat tradisional Bali fokus pada otot tegang. “Sleep Tourism” dengan desain kamar sirkadian. Hotel bisa gunakan pencahayaan alami, kasur ortopedi, dan soundproofing berbahan lokal (misal: serat kelapa untuk peredam suara).

Baca juga:  Risiko Penghijauan Jalan Terhadap Keselamatan

Experiential Tourism yang tidak hanya “Tonton Tari, Pulang” “Live like a Balinese” di Desa Wisata Tenganan, turis bisa ikut prosesi adat (tanpa mengganggu), belajar membuat gerabah, atau mencoba masak di dapur tradisional dengan alat yang didesain ergonomis (misal: kursi rendah tapi nyaman).

Konsep Hybrid “Wellness ditambah budaya dan alam” yang Ergonomis “Floating Meditation di Danau Beratan”,platform apung dengan bantalan duduk anti-slip dengan pemandu meditasi via earphone. “Sunrise Yoga di pura Lempuyang dengan Shuttle Khusus”: Transportasi nyaman (mobil listrik) dan  matras portabel agar turis tidak kelelahan bawa peralatan.

Bali punya banyak potensi untuk menjadi pelopor pariwisata ergonomi jika mau berpikir out-of-the-box: Wellness: Fokus pada solusi kesehatan modern (postur, tidur, digital detox). Teknologi (AR) dengan desain workspace yang ramah pengrajin/turis. Aksesibilitas dan eksperimen “soft adventure”. Yang paling menarik kombinasi ketiganya, misalnya, mengikuti ritual melukat (pemurnian) di sungai ergonomis (tangga aman, batu rata) sambil belajar filosofinya via AR dan pijat tradisional sambil mendengarkan gamelan via bone conduction headphones.

Penulis, Guru Besar Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA *